JENUH..
“nanti kita jalan ya, kamu siap-siap sekarang 1 jam lagi aku otw jemput
kamu” isi whatsapp dari Ardian yang baru aku baca setelah 45 menit yang
lalu dia mengirimnya, inilah kebiasaannya jika dia ingin ketemu dengan ku tidak
ada yang harus di rencanakan..
“maaf aku baru bangun, aku prepare dulu nanti kamu tunggu dulu ya”
aku baru membalasnya dan tidak lama kemudian sebelum aku mau mandi dia menelpon
ku untuk mengabari kalau dia sudah sampai di depan rumah. Kami sempat sedikit
cekcok karena dia paling tidak suka menunggu tapi aku kan juga enggak tau kalo
dia mau jemput makanya tadi aku tidur siang dan mengabaikan pesannya. Seperti
yang sudah sudah akhirnya dia mau menunggu dengan muka yang ngebetein.
Aku : “ kamu tunggu disini dulu aku mau siapsiap”
Ardian : “ jangan lamalama kebiasaan kamu ga pernah siap
tiap kali mau jalan, selalu aku yang nungguin kamu”
Aku hanya membalasnya dengan senyum
dan langsung masuk ke dalam rumah untuk bersiap diri sementara ardi menunggu di
teras depan rumah sambil di temani adikku.
Hubungan
kami sudah 4 tahun berjalan selama ini selalu kelihatan baik baik saja dan cara
kami berpacaranpun tidak seperti kebanyakan orang. Sejak kami SMP hingga
sekarang lulus SMA kami memang tidak selalu menjalin komunikasi yang intensif, bisa
saja dia mengabariku 2 kali sehari terus ketemuan pun bisa cuman sebulan 2
sampai 3 kali, aku pun bingung kenapa bisa bertahan selama ini dengan Ardi yang
sangat cuek, mungkin karena dia cinta pertama ku makanya aku tahan dengan
sikapnya selama ini meskipun seringkali ada rasa jenuh dan ingin di perhatikan
seperti cewe lain pada umumnya. Tiap kali aku menuntut nya untuk memperhatikan
ku yang ada dia malah bilang sikap aku kekanakan menurutnya.
Apa aku salah jika aku ingin
merasakan di sayang? Apa dia beneran sayang sama aku? Kenapa selama ini dia
tidak pernah menunjukkan perasaannya itu seperti dulu? Kenapa waktu awalnya aja
ini semua terasa manis? Kenapa aku bisa bertahan sejauh ini?
Banyak pertanyaan yang seringkali
muncul di benakku tentang dirinya tapi balik lagi karena rasa sayang ku yang
begitu dalam kepadanya membawa ku menghapuskan pikiran buruk tentangnya. Dia
memang yang selalu mengajarkanku tentang kedewasaan agar kami bisa berkomitmen
dari awal, kepercayaan dan saling terbuka adalah kunci kelanggengan hubungan
kami.
Kami memulai hubungan kami sejak kami SMP
kelas 3 karena aku satu sekolah dengannya ketika SMA kami tidak satu sekolah
namun terbukti kami bisa melewati jarak yang ada. Dia tidak pernah berpikiran
buruk tentangku tapi sebaliknya dengan ku, mana ada cewe yang ga setiap hari
ketemu cowonya terus harus selalu berpikiran baik soalnya. Cewe yah cewe dia
selalu ngandelin perasaannya buat ngeliat suatu hal itu entah baik atau buruk
yang pasti dia terus bawa ego nya buat ngambil keputusan. Tapi cowo tetaplah
cowo dia selalu pake logika tiap kali mau mutuskan sesuatu.
Pernah suatu waktu dia bilang
padaku “kita ini berdua pacaran karena aku sayang kamu dan kamu sayang aku,
tapi kita gaboleh Cuma bawa perasaan di hubungan ini kita juga harus pake
logika ketika semua hubungan ini enggak bisa di pertahanin kita gaboleh egois
untuk mempertahankan yang sudah seharusnya dilepaskan. Cinta boleh tapi logika
harus tetap berjalan” itu salah satu komitmen kita berdua kalo kita gabisa
maksain kehendak masingmasing. Di luar memang hubungan kami sangat indah di
pandang orang lain, karena kami tidak pernah ribut besar.
Dari
awal pacaran pun aku tau kalo dia emang sikapnya cuek tapi waktu pdkt dia perhatian
sama aku, tapi balik lagi masa pdkt itu udah lewat dan sekarang udah beda
masanya. Aku pernah menceritakan hubungan ku dengan sahabat dekatku dan
menurutnya hubungan kami ini tidak sehat dan tidak sewajarnya, akupun
berpikiran demikian tapi untuk putus pun aku masih memikirkan itu.
Setelah aku siap kami langsung
pergi ke taman biasa tempat kami nongkrong berdua, dia ini orangnya selalu apa
adanya, dan akupun tidak pernah menuntutnya untuk minta yang macam-macam aku
ini sangat paham kalau kita berdua masih mengandalkan orang tua untuk
jalan-jalan seperti ini, makanya jarang sekali aku di ajaknya untuk nonton atau
sekedar makan di mall. Sekalipun aku yang mengajaknya dan bilang kalau biaya
kita jalan tak melulu harus dia yang menanggung, tapi cowo tetaplah cowo mereka
selalu mempertahankan rasa gengsi, dia tidak pernah mau jika aku yang
mengajaknya kalau kondisinya yang tidak punya uang.
Kali ini kami membicarakan tentang
masa depan kami masing-masing.
Ardian : “ kita udah selesai UN, abis ini kamu mau lanjut
gimana?”
Aku : “aku mau kuliah, kan aku ikut SNMPTN di sekolah”
Ardian : “hmm, kalo aku mau ngabdi sama Negara ini”
Aku : “maksudnya?”
Ardian : “iya aku mau
jadi anggota militer, aku mau jadi TNI”
Aku : “kok aku baru tau kalo kamu kepengen jadi TNI”
Ardian : “aku emang baru kepikiran setelah lulus ini”
Aku : “apapun keputusan kamu aku selalu dukung kok, kamu
semangat ya buat dapetin impian kamu”
Ardian : ”aku nanti mau ikut pelatihan buat bisa masuk jadi
TNI, kemungkinan kita bisa lebih jarang buat ketemu dan komunikasi kaya gini”
Aku :”gitu ya, gapapa kok. Aku juga udah terbiasa tanpa
kamu.. hehe”
Setelah pertemuan itu aku makin jarang bertemu dan
komunikasi dengannya, tiap aku hubungi dia duluan pasti balesnya lama atau
bahkan tidak di balas sama sekali, aku makin jenuh sekali dengan hubungan ini.
Sementara sekarang ini aku belum ada kegiatan apapun dirumah yah paling cuman
ngumpul bareng sahabat-sahabatku untuk mencari kesibukan agar melupakannya
sesaat yang juga sekarang lagi menyibukan dirinya sendiri.
Sudah satu bulan lebih dari semenjak libur UN, dan aku
diterima di PTN yang aku inginkan di UNSOED Purwakarta, mengetahui kabar
gembira ini aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku pada siapapun termasuk
kepada Ardian. Akhirnya aku mengabarinya hanya lewat whatsapp karena tidak
mungkin dia mau ku ganggu dengan aktifitasnya.
“Ar, aku mau kuliah di
purwakarta aku keterima disana. Kalo kamu gak sibuk minggu ini aku mau ketemu,
sebelum sabtu depan aku pergi kesana”
Selang beberapa waktu dia membalas pesan ku dan mengatakan
kalau akan ke rumah ku malam ini.
Ardian : “jadi kamu mau pergi ke purwakarta?”
Aku : “iya, ini impian aku buat kuliah di PTN”
Ardian : “yaudah kamu jaga diri baik-baik ya, aku bangga
sama kamu”
Aku : “iya makasih ya sayang, latihan kamu gimana?”
Ardian : “aku baru mau pendaftaran bulan depan, sekarang aku
lagi latihan fisik sama cari tau tes tes gitu aja”
Aku : “semoga kamu bisa sukses ya, terus berjuang ya jangan
patah semangat”
Ardian :”iya sayang, kamu juga disana fokus kuliah yaa,
jangan genit sama senior disana”
Aku : “tumben kamu ngomong kaya gitu, ceritanya cemburu nih”
Ardian : “enggalah ngapain cemburu, kan cuman ngingetin”
Aku : “ah dasar kamu, bilang cemburu masih aja gengsi. Yang
ada kamu tuh jangan bandel disini”
Ardian : “yah enggalah sayang, aku aja sibuk sama ambisi aku
mana sempet mikirin gituan”
Setelah
malam itu aku dan Ardi tidak ketemu lagi hanya sesekali memberi kabar via
whatsapp, Sudah 3 bulan aku disana Ardi mengirimi ku pesan yang menjelaskan
kalau dirinya gagal masuk TNI.
“hai sayang, kamu apa
kabar? Hari ini pengumuman hasil seleksi dan aku gak lolos, tapi aku mau
latihan lagi supaya tahun depan aku bisa coba lagi”
Aku
ikut sedih dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.
“aku baik kok sayang,
kamu gimana? Jangan kecewa yah sayang, selalu ada jalan lain kok. Kamu yang
sabar dan tetap berusaha jangan patah semangat kalo taun depan kamu coba lagi,
InshaAllah kamu pasti bisa kok”
Aku sangat mengerti Ardi dia pasti
saat ini sangat kecewa.
“aku juga baik kok,
iya makasih ya sayang untuk semua dukungan dan doa dari kamu. Kamu jaga diri
baik-baik disana..”
Kali ini pertama kalinya dia
perhatian lagi dengan ku, tapi aku sudah menanggapinya dengan biasa aja.
Waktu terus berjalan, komunikasi
kami yang makin memburuk membuat ku disini hampir sama sekali melupakannya,
bahkan disini aku bagaikan merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya
dengan teman sekampusku, Rio. Awalnya kami hanya sekedar berteman dia pun tau
cerita ku bersama Ardian, tapi sepertinya dia tidak menggubris adanya Ardian
dihidupku, bahkan dengannya aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah aku
rasakan bersama Ardian, bersamanya aku benar-benar lupa kalau aku masih punya
Ardian di Jakarta.
1 tahun berlalu ini adalah libur
semester yang panjang, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta untuk melepas
rindu dengan keluarga juga sahabat-sahabatku disini. Sepulangnya kesini aku
malah memikirkan Rio yang juga sedang pulang ke Bandung. Aku memang masih
berteman dengan Rio namun komunikasi yang kami jalin bisa dikatakan lebih dari
sekedar teman, bahkan seringkali dia memberikan kode untuk ku agar aku bisa
menerima nya jadi pacar ku. Tapi hati dan pikiran ku masih terganjal oleh
adanya Ardian.
Mengetahui keberadaan ku yang lagi
di Jakarta lewat update status ku, Ardian pun menanyakan kabar ku lewat pesan
yang dikirimnya.
“kamu lagi di Jakarta ? kok kamu ga ngabarin aku sih? Bisa nanti kita
ketemuan yaa”
Aku hanya mengiyakan ajakannya,
karena udah males ngeladeninnya. Disini aku berpikir untuk memutuskan hubungan
ku dengan Ardian, karena hubungan ini di pertahankan juga tidak akan jelas.
Lagi pula rasanya perasaan ku padanya sudah hilang.
Ardian sudah sampai untuk
menjemputku dan kami pergi ke sebuah cafe..
Ardian : “kamu kapan nyampe Jakarta ? kok ga kasih tau aku
kalo kamu mau pulang”
Aku :”ngasih tau kamu juga kamunya pasti sibuk lah”
Ardian : “iya engga gitu juga”
Aku :”kamu tumben ajak aku kesini”
Ardian :”kenapa emangnya? Kamu gak suka ya?
Aku :”engga kok, aku suka”
Ardian : “gimana kamu disana baik-baik aja kan?”
Aku :”yah baik, kayanya malah lebih baik disana”
Ardian :”loh kok gitu? Emangnya kamu ga kangen Jakarta?”
Aku : “biasa aja sih, disana lebih nyaman dan tenang”
Ardian : “kok aku ngerasa kamu beda ya pulang dari sana..”
Aku : “aku mah biasa aja kali, kamu aja lebay ngerasa kaya
gitu”
Ardian : “yaudah iya, aku kangen tau sama kamu setaun udah
gak ketemu”
Aku : “ah kamu dulu biasa aja sebulan sekali ketemunya”
Ardian : ” kan sebulan sekali skrg jadi setaun sekali”
Aku : “ Ar, kamu bosen gak sih sama hubungan kita? Kita udh
ga pernah ketemu loh.. udah gitu kita juga beda kesibukan”
Ardian : “kok kamu ngomongnya kaya gitu sih, engga lah..”
Aku :” yah bukan apa apa, aku kan ga pernah jadi prioritas
buat kamu. Ngehubungin aja jarang padahal cuman sekedar kasih kabar apalagi
kita ini udah LDR selama setaun, jujur aku pribadi sih ngerasa ga bisa buat
ngejalanin LDR ini..”
Ardian :”ini kaya bukan kamu deh, kan kamu paham kalo kita
berdua ini lagi sama sama nyiapin buat masa depan kita masing masing, aku kok
kaya kehilangan kamu yang dulu yaa”
Aku :” aku emg beda sama aku yang dulu, dari dulu kamu juga
memperlakukan aku kaya gini gini aja kan”
Ardian : “denger ya sayang, jujur emang untuk sekarang ini
kamu bukan prioritas aku. Tapi aku sayang sama kamu, sekarang yang aku pikirin
karir untuk masa depan aku, setelah itu keluarga aku baru kamu nanti yang kamu
pikirin, semua itu harus berurut ada tahapannya, karena kamu itu bagian dari
masa depan aku”
Aku : “kayanya aku nyerah untuk ada di samping kamu Ar, aku
rasa kita lebih baik bertemen aja.. begitu lebih baik, aku mau nikmatin masa
muda aku dulu, aku gamau ada hubungan yang ngiket aku kaya gini, aku mau bebas
kemana aja sama siapa aja, tanpa mikirin kamu disini. Aku mohon ngertiin aku”
Ardian : “yaudah aku ngerti maksud kamu, tapi aku harap kamu
juga ngerti apa yang aku omongin tadi sama kamu, semoga kamu bahagia dengan
pilihan kamu..”
Semenjak
hari itu aku merasakan kebebasan yang seutuhnya, tidak lama setelah itu aku
kembali ke Purwakarta untuk melanjutkan kuliah ku, juga disana aku makin dekat
dengan Rio bahkan kami berdua sudah jadian sekarang ini, tak lama setelah
hubungan kami berlangsung Ardian menghubungi ku pada saat handphone ku sedang
di pinjam oleh Rio.
Isi pesannya hanya seperti ini :
“ Aku skrg lolos jadi
TNI, makasih ya buat semua doa dan dukungan kamu selama ini buat aku”
Tak ku
sangka ternyata Rio marah sejadi jadinya dengan ku, padahal kan dia tau kalau
itu hanya pesan dari Ardian, dan sebelumnya pun aku tidak sedang chat an
dengannya. Rio marah dan menyuruhku agar tidak membalas pesan dari Ardi.
Rio
memang sangat berbeda dengan Ardi, bahkan jauh berbeda. Tapi tak ada gunanya
aku memikirkan masa laluku, yang aku jalani sekarang adalah pilihan ku. Semakin
kesini sikap Rio makin membuat ku risih, dia makin protektif dengan ku. Aku mau
pergi kemanapun harus bilang ke dia, pokoknya perhatiannya dia berlebihan jadi
buat aku lama lama ilfil sama dia. Aku makin tak sanggup menjalani kisah
cintaku dengannya. Akhirnya setelah satu setengah tahun kami pacaran kami putus
juga. Rasanya lebih lega aku bebas dari Rio ini.
Selang beberapa lama aku putus
dengan Rio dan aku menjalani kehidupan ku sendiri tanpa berpacaran dengan
siapapun, membuat ku makin fokus kuliah dan tidak lagi memikirkan hal hal
seperti itu. Yang ada di pikiran ku saat ini hanyalah kuliah dan cepat lulus.
Kehidupan ku mulai tenang tanpa
adanya laki-laki, namun saat aku mengecek handphone ku ternyata aku baru sadar
kalau Ardian itu di block dari semua sosmed ku, yaampun Rio itu emang
kebangetan banget, aku pun meng unblock Ardian dan meminta maaf kepadanya..
“maaf ya Ar, aku ga
engeh kalo kamu ke block sama aku. Itu semua bukan aku kok yang ngeblock, itu
mantan aku yang ngelakuin semuanya”
Kali
ini dia sangat cepat membalas pesanku, tidak seperti dulu dulu.
“iya gapapa kok, aku
ngerti. Oh iya kamu kapan lulus?”
Aku melihat
foto profil nya yang sudah mengenakan baju TNI.
“Semoga aja tahun
depan, doain aja yaa.. wah kamu skrg udh sukses ya jadi TNI, Alhamdulillah ya
aku ikut bahagia buat kesuksessan kamu”
“ini semua kan juga
berkat doa dan semangat dari kamu, semoga kamu cepet lulus yaa. Aku taun ini di
tugasin dinas ke lampung”
Pesan
dari Ardi sedikit membuatku agak kaget.
“wah jauh ya di
lampung, gabisa ketemu kamu lagi dong kalo ke Jakarta.. hehe”
Balasan Ardi membuat aku sedih dan menyesal karena dulu udah
menyianyiakannya.
“aku disana cuman 2
sampai 3 tahun kok, setelah itu aku tugas di Jakarta. Bisa kok kita ketemu lagi
kalo di takdirin sama Allah, hehe”
Semenjak saat itu aku tidak pernah
mendapat kabar lagi dari Ardi, mungkin saja dia sedang bertugas hingga tidak sempat
mengabariku atau bahkan dia sudah memiliki perempuan lain. Ah sudahlah,
memikirkannya pun sudah bukan keharusanku. Aku harus melupakannya.
Hari terus berganti hari, saat ini
tiba saatnya untuk membayar semua perjuanganku berkuliah disini. Hari ini adalah
hari kelulusan dan wisuda ku, kedua orangtua ku datang untuk melihat
keberhasilanku. Setelah wisuda aku dan keluarga kembali ke Jakarta dan aku
memutuskan untuk melanjutkan hidup kembali di kota kelahiranku. Saat ini aku
sudah Sarjana dan aku pun sudah mulai mencari pekerjaan disini, siapa yang
sangka ternyata saat aku melamar pekerjaan akupun bertemu dengan Rio dan kami
akhirnya sekantor, aku hanya berharap agar dia tidak menggangguku lagi.
Hubungan ku dengan Rio makin akrab
mungkin karena kami teman sekantor, dan aku lihat banyak perubahan dalam diri
Rio, tapi hubungan kami hanya sebatas teman dan profesionalitas bekerja saja,
tidak ada perasaan dalam hubungan ini.
Tidak terasa sudah dua tahun lebih
aku bekerja disini, menyadari semua hal yang ku miliki dalam hidup ini, aku
merasakan kekosongan seperti ada yang hilang dalam diri ku. Entah mengapa dan
apa yang kurasakan saat ini benar-benar membuat ku bingung, di satu sisi aku
bagaikan rindu akan bagian dari masa laluku. Hari demi hari terus berlalu, aku
makin larut akan rasa rindu yang makin mendalam yang bisa ku lakukan hanyalah
melihat chat an dan foto aku dengan Ardian, aku tak mau menghubunginya duluan,
aku takut mengganggu pekerjaannya. Ternyata selama ini aku mengerti, bahwa aku
kurang menghargai kehadirannya. Mungkin ini maksudnya tidak menjadikanku
prioritas dalam hidupnya, Karena memang masa muda itu harus di prioritaskan
untuk karir dan keluarga kalau soal asmara pasti nantinya akan di datangkan
oleh yang Maha Kuasa. Tapi sudahlah, yang bisa aku lakukan kalo aku sedang
kangen kangennya sama Ardian aku hanya bisa berdoa pada yang Maha Cinta untuk
selalu menjaganya dan melindunginya, kalaupun dia sudah bersama orang lain itu
tidak penting bagiku, karena aku sadar selama ini dia juga bukan sekedar pacar
untukku melainkan lebih daripada itu.
Satu pelajaran yang dapat ku ambil
dari Ardian “Cinta yang sesungguhnya itu bukan hanya sekedar menghabiskan waktu
bersama melainkan rasa kasih sayang yang meski tak saling bertatap mata namun
bisa saling menjaga hati dan perasaan pasangannya masing-masing.”
Hal yang ku lakukan ketika aku tak
sanggup menahan rasa rindu padanya adalah duduk di taman biasa kami
menghabiskan waktu bersama, mengenang masa lalu yang indah dengan kebersamaan.
Di waktu aku duduk termenung sambil menatap kelangit, ada seseorang datang
memberi ku setangkai Mawar Biru dan secara spontan aku mengenalinya “dia itu
Ardian” langsung memeluk dan meneteskan air mata.
Aku : “kamu apa kabar? Gapernah chat atau nelfon aku skrg”
Ardian : “maaf ya aku dinas ke luar kota, jadi gabisa
ngabarin kamu. Hape aku ilang lagi waktu disana, mau pinjem hape temen jarang
sinyal juga”
Aku : “iya gapapa kok,kamu ada di Jakarta sekarang?”
Ardian : “sekarang aku di tugasin disini, hampir tiap hari
aku lewat taman ini. berharap kamu duduk di bangku ini, akhirnya hari ini aku
bisa liat kamu lagi”
Aku : “kamu kenapa gak coba hubungin aku aja, kan ada
sosmed”
Ardian: “aku udh coba hubungin kamu lewat twitter dan fb
tapi kayanya kamu jarang buka ya”
Aku : “iya aku sedikit sibuk, jadi udah ga kepikiran buka
sosmed lagi”
Banyak
hal yang dia dan aku ceritakan masing-masing, suka-duka telah kami alami di
tempat yang berbeda, meskipun kecil kemungkinan untukku balikan sama dia.
Setidaknya kembali bertatap muka dengannya sudah menjadi kebahagiaan untukku
saat ini.
.TAMAT.
HM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar