Pengikut

Sabtu, 26 Maret 2016

Jenuh

JENUH..
nanti kita jalan ya, kamu siap-siap sekarang 1 jam lagi aku otw jemput kamu” isi whatsapp dari Ardian yang baru aku baca setelah 45 menit yang lalu dia mengirimnya, inilah kebiasaannya jika dia ingin ketemu dengan ku tidak ada yang harus di rencanakan..
maaf aku baru bangun, aku prepare dulu nanti kamu tunggu dulu ya” aku baru membalasnya dan tidak lama kemudian sebelum aku mau mandi dia menelpon ku untuk mengabari kalau dia sudah sampai di depan rumah. Kami sempat sedikit cekcok karena dia paling tidak suka menunggu tapi aku kan juga enggak tau kalo dia mau jemput makanya tadi aku tidur siang dan mengabaikan pesannya. Seperti yang sudah sudah akhirnya dia mau menunggu dengan muka yang ngebetein.
Aku : “ kamu tunggu disini dulu aku mau siapsiap”
Ardian : “ jangan lamalama kebiasaan kamu ga pernah siap tiap kali mau jalan, selalu aku yang nungguin kamu”
Aku hanya membalasnya dengan senyum dan langsung masuk ke dalam rumah untuk bersiap diri sementara ardi menunggu di teras depan rumah sambil di temani adikku.
                Hubungan kami sudah 4 tahun berjalan selama ini selalu kelihatan baik baik saja dan cara kami berpacaranpun tidak seperti kebanyakan orang. Sejak kami SMP hingga sekarang lulus SMA kami memang tidak selalu menjalin komunikasi yang intensif, bisa saja dia mengabariku 2 kali sehari terus ketemuan pun bisa cuman sebulan 2 sampai 3 kali, aku pun bingung kenapa bisa bertahan selama ini dengan Ardi yang sangat cuek, mungkin karena dia cinta pertama ku makanya aku tahan dengan sikapnya selama ini meskipun seringkali ada rasa jenuh dan ingin di perhatikan seperti cewe lain pada umumnya. Tiap kali aku menuntut nya untuk memperhatikan ku yang ada dia malah bilang sikap aku kekanakan menurutnya.
Apa aku salah jika aku ingin merasakan di sayang? Apa dia beneran sayang sama aku? Kenapa selama ini dia tidak pernah menunjukkan perasaannya itu seperti dulu? Kenapa waktu awalnya aja ini semua terasa manis? Kenapa aku bisa bertahan sejauh ini?
Banyak pertanyaan yang seringkali muncul di benakku tentang dirinya tapi balik lagi karena rasa sayang ku yang begitu dalam kepadanya membawa ku menghapuskan pikiran buruk tentangnya. Dia memang yang selalu mengajarkanku tentang kedewasaan agar kami bisa berkomitmen dari awal, kepercayaan dan saling terbuka adalah kunci kelanggengan hubungan kami.
 Kami memulai hubungan kami sejak kami SMP kelas 3 karena aku satu sekolah dengannya ketika SMA kami tidak satu sekolah namun terbukti kami bisa melewati jarak yang ada. Dia tidak pernah berpikiran buruk tentangku tapi sebaliknya dengan ku, mana ada cewe yang ga setiap hari ketemu cowonya terus harus selalu berpikiran baik soalnya. Cewe yah cewe dia selalu ngandelin perasaannya buat ngeliat suatu hal itu entah baik atau buruk yang pasti dia terus bawa ego nya buat ngambil keputusan. Tapi cowo tetaplah cowo dia selalu pake logika tiap kali mau mutuskan sesuatu.
Pernah suatu waktu dia bilang padaku “kita ini berdua pacaran karena aku sayang kamu dan kamu sayang aku, tapi kita gaboleh Cuma bawa perasaan di hubungan ini kita juga harus pake logika ketika semua hubungan ini enggak bisa di pertahanin kita gaboleh egois untuk mempertahankan yang sudah seharusnya dilepaskan. Cinta boleh tapi logika harus tetap berjalan” itu salah satu komitmen kita berdua kalo kita gabisa maksain kehendak masingmasing. Di luar memang hubungan kami sangat indah di pandang orang lain, karena kami tidak pernah ribut besar.
                Dari awal pacaran pun aku tau kalo dia emang sikapnya cuek tapi waktu pdkt dia perhatian sama aku, tapi balik lagi masa pdkt itu udah lewat dan sekarang udah beda masanya. Aku pernah menceritakan hubungan ku dengan sahabat dekatku dan menurutnya hubungan kami ini tidak sehat dan tidak sewajarnya, akupun berpikiran demikian tapi untuk putus pun aku masih memikirkan itu.
Setelah aku siap kami langsung pergi ke taman biasa tempat kami nongkrong berdua, dia ini orangnya selalu apa adanya, dan akupun tidak pernah menuntutnya untuk minta yang macam-macam aku ini sangat paham kalau kita berdua masih mengandalkan orang tua untuk jalan-jalan seperti ini, makanya jarang sekali aku di ajaknya untuk nonton atau sekedar makan di mall. Sekalipun aku yang mengajaknya dan bilang kalau biaya kita jalan tak melulu harus dia yang menanggung, tapi cowo tetaplah cowo mereka selalu mempertahankan rasa gengsi, dia tidak pernah mau jika aku yang mengajaknya kalau kondisinya yang tidak punya uang.
Kali ini kami membicarakan tentang masa depan kami masing-masing.
Ardian : “ kita udah selesai UN, abis ini kamu mau lanjut gimana?”
Aku : “aku mau kuliah, kan aku ikut SNMPTN di sekolah”
Ardian : “hmm, kalo aku mau ngabdi sama Negara ini”
Aku : “maksudnya?”
Ardian  : “iya aku mau jadi anggota militer, aku mau jadi TNI”
Aku : “kok aku baru tau kalo kamu kepengen jadi TNI”
Ardian : “aku emang baru kepikiran setelah lulus ini”
Aku : “apapun keputusan kamu aku selalu dukung kok, kamu semangat ya buat dapetin impian kamu”
Ardian : ”aku nanti mau ikut pelatihan buat bisa masuk jadi TNI, kemungkinan kita bisa lebih jarang buat ketemu dan komunikasi kaya gini”
Aku :”gitu ya, gapapa kok. Aku juga udah terbiasa tanpa kamu.. hehe”
Setelah pertemuan itu aku makin jarang bertemu dan komunikasi dengannya, tiap aku hubungi dia duluan pasti balesnya lama atau bahkan tidak di balas sama sekali, aku makin jenuh sekali dengan hubungan ini. Sementara sekarang ini aku belum ada kegiatan apapun dirumah yah paling cuman ngumpul bareng sahabat-sahabatku untuk mencari kesibukan agar melupakannya sesaat yang juga sekarang lagi menyibukan dirinya sendiri.
Sudah satu bulan lebih dari semenjak libur UN, dan aku diterima di PTN yang aku inginkan di UNSOED Purwakarta, mengetahui kabar gembira ini aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku pada siapapun termasuk kepada Ardian. Akhirnya aku mengabarinya hanya lewat whatsapp karena tidak mungkin dia mau ku ganggu dengan aktifitasnya.
Ar, aku mau kuliah di purwakarta aku keterima disana. Kalo kamu gak sibuk minggu ini aku mau ketemu, sebelum sabtu depan aku pergi kesana
Selang beberapa waktu dia membalas pesan ku dan mengatakan kalau akan ke rumah ku malam ini.
Ardian : “jadi kamu mau pergi ke purwakarta?”
Aku : “iya, ini impian aku buat kuliah di PTN”
Ardian : “yaudah kamu jaga diri baik-baik ya, aku bangga sama kamu”
Aku : “iya makasih ya sayang, latihan kamu gimana?”
Ardian : “aku baru mau pendaftaran bulan depan, sekarang aku lagi latihan fisik sama cari tau tes tes gitu aja”
Aku : “semoga kamu bisa sukses ya, terus berjuang ya jangan patah semangat”
Ardian :”iya sayang, kamu juga disana fokus kuliah yaa, jangan genit sama senior disana”
Aku : “tumben kamu ngomong kaya gitu, ceritanya cemburu nih”
Ardian : “enggalah ngapain cemburu, kan cuman ngingetin”
Aku : “ah dasar kamu, bilang cemburu masih aja gengsi. Yang ada kamu tuh jangan bandel disini”
Ardian : “yah enggalah sayang, aku aja sibuk sama ambisi aku mana sempet mikirin gituan”
                Setelah malam itu aku dan Ardi tidak ketemu lagi hanya sesekali memberi kabar via whatsapp, Sudah 3 bulan aku disana Ardi mengirimi ku pesan yang menjelaskan kalau dirinya gagal masuk TNI.
hai sayang, kamu apa kabar? Hari ini pengumuman hasil seleksi dan aku gak lolos, tapi aku mau latihan lagi supaya tahun depan aku bisa coba lagi
                Aku ikut sedih dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.
aku baik kok sayang, kamu gimana? Jangan kecewa yah sayang, selalu ada jalan lain kok. Kamu yang sabar dan tetap berusaha jangan patah semangat kalo taun depan kamu coba lagi, InshaAllah kamu pasti bisa kok  
               

Aku sangat mengerti Ardi dia pasti saat ini sangat kecewa.
aku juga baik kok, iya makasih ya sayang untuk semua dukungan dan doa dari kamu. Kamu jaga diri baik-baik disana..”
Kali ini pertama kalinya dia perhatian lagi dengan ku, tapi aku sudah menanggapinya dengan biasa aja.

Waktu terus berjalan, komunikasi kami yang makin memburuk membuat ku disini hampir sama sekali melupakannya, bahkan disini aku bagaikan merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya dengan teman sekampusku, Rio. Awalnya kami hanya sekedar berteman dia pun tau cerita ku bersama Ardian, tapi sepertinya dia tidak menggubris adanya Ardian dihidupku, bahkan dengannya aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan bersama Ardian, bersamanya aku benar-benar lupa kalau aku masih punya Ardian di Jakarta.
1 tahun berlalu ini adalah libur semester yang panjang, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta untuk melepas rindu dengan keluarga juga sahabat-sahabatku disini. Sepulangnya kesini aku malah memikirkan Rio yang juga sedang pulang ke Bandung. Aku memang masih berteman dengan Rio namun komunikasi yang kami jalin bisa dikatakan lebih dari sekedar teman, bahkan seringkali dia memberikan kode untuk ku agar aku bisa menerima nya jadi pacar ku. Tapi hati dan pikiran ku masih terganjal oleh adanya Ardian.
Mengetahui keberadaan ku yang lagi di Jakarta lewat update status ku, Ardian pun menanyakan kabar ku lewat pesan yang dikirimnya.
kamu lagi di Jakarta ? kok kamu ga ngabarin aku sih? Bisa nanti kita ketemuan yaa
Aku hanya mengiyakan ajakannya, karena udah males ngeladeninnya. Disini aku berpikir untuk memutuskan hubungan ku dengan Ardian, karena hubungan ini di pertahankan juga tidak akan jelas. Lagi pula rasanya perasaan ku padanya sudah hilang.
Ardian sudah sampai untuk menjemputku dan kami pergi ke sebuah cafe..
Ardian : “kamu kapan nyampe Jakarta ? kok ga kasih tau aku kalo kamu mau pulang”
Aku :”ngasih tau kamu juga kamunya pasti sibuk lah”
Ardian : “iya engga gitu juga”
Aku :”kamu tumben ajak aku kesini”
Ardian :”kenapa emangnya? Kamu gak suka ya?
Aku :”engga kok, aku suka”
Ardian : “gimana kamu disana baik-baik aja kan?”
Aku :”yah baik, kayanya malah lebih baik disana”
Ardian :”loh kok gitu? Emangnya kamu ga kangen Jakarta?”
Aku : “biasa aja sih, disana lebih nyaman dan tenang”
Ardian : “kok aku ngerasa kamu beda ya pulang dari sana..”
Aku : “aku mah biasa aja kali, kamu aja lebay ngerasa kaya gitu”
Ardian : “yaudah iya, aku kangen tau sama kamu setaun udah gak ketemu”
Aku : “ah kamu dulu biasa aja sebulan sekali ketemunya”
Ardian : ” kan sebulan sekali skrg jadi setaun sekali”
Aku : “ Ar, kamu bosen gak sih sama hubungan kita? Kita udh ga pernah ketemu loh.. udah gitu kita juga beda kesibukan”
Ardian : “kok kamu ngomongnya kaya gitu sih, engga lah..”
Aku :” yah bukan apa apa, aku kan ga pernah jadi prioritas buat kamu. Ngehubungin aja jarang padahal cuman sekedar kasih kabar apalagi kita ini udah LDR selama setaun, jujur aku pribadi sih ngerasa ga bisa buat ngejalanin LDR ini..”
Ardian :”ini kaya bukan kamu deh, kan kamu paham kalo kita berdua ini lagi sama sama nyiapin buat masa depan kita masing masing, aku kok kaya kehilangan kamu yang dulu yaa”
Aku :” aku emg beda sama aku yang dulu, dari dulu kamu juga memperlakukan aku kaya gini gini aja kan”
Ardian : “denger ya sayang, jujur emang untuk sekarang ini kamu bukan prioritas aku. Tapi aku sayang sama kamu, sekarang yang aku pikirin karir untuk masa depan aku, setelah itu keluarga aku baru kamu nanti yang kamu pikirin, semua itu harus berurut ada tahapannya, karena kamu itu bagian dari masa depan aku”
Aku : “kayanya aku nyerah untuk ada di samping kamu Ar, aku rasa kita lebih baik bertemen aja.. begitu lebih baik, aku mau nikmatin masa muda aku dulu, aku gamau ada hubungan yang ngiket aku kaya gini, aku mau bebas kemana aja sama siapa aja, tanpa mikirin kamu disini. Aku mohon ngertiin aku”
Ardian : “yaudah aku ngerti maksud kamu, tapi aku harap kamu juga ngerti apa yang aku omongin tadi sama kamu, semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu..”

                Semenjak hari itu aku merasakan kebebasan yang seutuhnya, tidak lama setelah itu aku kembali ke Purwakarta untuk melanjutkan kuliah ku, juga disana aku makin dekat dengan Rio bahkan kami berdua sudah jadian sekarang ini, tak lama setelah hubungan kami berlangsung Ardian menghubungi ku pada saat handphone ku sedang di pinjam oleh Rio.
Isi pesannya hanya seperti ini :
Aku skrg lolos jadi TNI, makasih ya buat semua doa dan dukungan kamu selama ini buat aku
                Tak ku sangka ternyata Rio marah sejadi jadinya dengan ku, padahal kan dia tau kalau itu hanya pesan dari Ardian, dan sebelumnya pun aku tidak sedang chat an dengannya. Rio marah dan menyuruhku agar tidak membalas pesan dari Ardi.
                Rio memang sangat berbeda dengan Ardi, bahkan jauh berbeda. Tapi tak ada gunanya aku memikirkan masa laluku, yang aku jalani sekarang adalah pilihan ku. Semakin kesini sikap Rio makin membuat ku risih, dia makin protektif dengan ku. Aku mau pergi kemanapun harus bilang ke dia, pokoknya perhatiannya dia berlebihan jadi buat aku lama lama ilfil sama dia. Aku makin tak sanggup menjalani kisah cintaku dengannya. Akhirnya setelah satu setengah tahun kami pacaran kami putus juga. Rasanya lebih lega aku bebas dari Rio ini.
Selang beberapa lama aku putus dengan Rio dan aku menjalani kehidupan ku sendiri tanpa berpacaran dengan siapapun, membuat ku makin fokus kuliah dan tidak lagi memikirkan hal hal seperti itu. Yang ada di pikiran ku saat ini hanyalah kuliah dan cepat lulus.
Kehidupan ku mulai tenang tanpa adanya laki-laki, namun saat aku mengecek handphone ku ternyata aku baru sadar kalau Ardian itu di block dari semua sosmed ku, yaampun Rio itu emang kebangetan banget, aku pun meng unblock Ardian dan meminta maaf kepadanya..
maaf ya Ar, aku ga engeh kalo kamu ke block sama aku. Itu semua bukan aku kok yang ngeblock, itu mantan aku yang ngelakuin semuanya
                Kali ini dia sangat cepat membalas pesanku, tidak seperti dulu dulu.
iya gapapa kok, aku ngerti. Oh iya kamu kapan lulus?”
                Aku melihat foto profil nya yang sudah mengenakan baju TNI.
Semoga aja tahun depan, doain aja yaa.. wah kamu skrg udh sukses ya jadi TNI, Alhamdulillah ya aku ikut bahagia buat kesuksessan kamu
ini semua kan juga berkat doa dan semangat dari kamu, semoga kamu cepet lulus yaa. Aku taun ini di tugasin dinas ke lampung
                Pesan dari Ardi sedikit membuatku agak kaget.
wah jauh ya di lampung, gabisa ketemu kamu lagi dong kalo ke Jakarta.. hehe
Balasan Ardi membuat aku sedih dan menyesal karena dulu udah menyianyiakannya.
aku disana cuman 2 sampai 3 tahun kok, setelah itu aku tugas di Jakarta. Bisa kok kita ketemu lagi kalo di takdirin sama Allah, hehe

Semenjak saat itu aku tidak pernah mendapat kabar lagi dari Ardi, mungkin saja dia sedang bertugas hingga tidak sempat mengabariku atau bahkan dia sudah memiliki perempuan lain. Ah sudahlah, memikirkannya pun sudah bukan keharusanku. Aku harus melupakannya.
Hari terus berganti hari, saat ini tiba saatnya untuk membayar semua perjuanganku berkuliah disini. Hari ini adalah hari kelulusan dan wisuda ku, kedua orangtua ku datang untuk melihat keberhasilanku. Setelah wisuda aku dan keluarga kembali ke Jakarta dan aku memutuskan untuk melanjutkan hidup kembali di kota kelahiranku. Saat ini aku sudah Sarjana dan aku pun sudah mulai mencari pekerjaan disini, siapa yang sangka ternyata saat aku melamar pekerjaan akupun bertemu dengan Rio dan kami akhirnya sekantor, aku hanya berharap agar dia tidak menggangguku lagi.
Hubungan ku dengan Rio makin akrab mungkin karena kami teman sekantor, dan aku lihat banyak perubahan dalam diri Rio, tapi hubungan kami hanya sebatas teman dan profesionalitas bekerja saja, tidak ada perasaan dalam hubungan ini.
Tidak terasa sudah dua tahun lebih aku bekerja disini, menyadari semua hal yang ku miliki dalam hidup ini, aku merasakan kekosongan seperti ada yang hilang dalam diri ku. Entah mengapa dan apa yang kurasakan saat ini benar-benar membuat ku bingung, di satu sisi aku bagaikan rindu akan bagian dari masa laluku. Hari demi hari terus berlalu, aku makin larut akan rasa rindu yang makin mendalam yang bisa ku lakukan hanyalah melihat chat an dan foto aku dengan Ardian, aku tak mau menghubunginya duluan, aku takut mengganggu pekerjaannya. Ternyata selama ini aku mengerti, bahwa aku kurang menghargai kehadirannya. Mungkin ini maksudnya tidak menjadikanku prioritas dalam hidupnya, Karena memang masa muda itu harus di prioritaskan untuk karir dan keluarga kalau soal asmara pasti nantinya akan di datangkan oleh yang Maha Kuasa. Tapi sudahlah, yang bisa aku lakukan kalo aku sedang kangen kangennya sama Ardian aku hanya bisa berdoa pada yang Maha Cinta untuk selalu menjaganya dan melindunginya, kalaupun dia sudah bersama orang lain itu tidak penting bagiku, karena aku sadar selama ini dia juga bukan sekedar pacar untukku melainkan lebih daripada itu.
Satu pelajaran yang dapat ku ambil dari Ardian “Cinta yang sesungguhnya itu bukan hanya sekedar menghabiskan waktu bersama melainkan rasa kasih sayang yang meski tak saling bertatap mata namun bisa saling menjaga hati dan perasaan pasangannya masing-masing.”
Hal yang ku lakukan ketika aku tak sanggup menahan rasa rindu padanya adalah duduk di taman biasa kami menghabiskan waktu bersama, mengenang masa lalu yang indah dengan kebersamaan. Di waktu aku duduk termenung sambil menatap kelangit, ada seseorang datang memberi ku setangkai Mawar Biru dan secara spontan aku mengenalinya “dia itu Ardian” langsung memeluk dan meneteskan air mata.
Aku : “kamu apa kabar? Gapernah chat atau nelfon aku skrg”
Ardian : “maaf ya aku dinas ke luar kota, jadi gabisa ngabarin kamu. Hape aku ilang lagi waktu disana, mau pinjem hape temen jarang sinyal juga”
Aku : “iya gapapa kok,kamu ada di Jakarta sekarang?”
Ardian : “sekarang aku di tugasin disini, hampir tiap hari aku lewat taman ini. berharap kamu duduk di bangku ini, akhirnya hari ini aku bisa liat kamu lagi”
Aku : “kamu kenapa gak coba hubungin aku aja, kan ada sosmed”
Ardian: “aku udh coba hubungin kamu lewat twitter dan fb tapi kayanya kamu jarang buka ya”
Aku : “iya aku sedikit sibuk, jadi udah ga kepikiran buka sosmed lagi”
                Banyak hal yang dia dan aku ceritakan masing-masing, suka-duka telah kami alami di tempat yang berbeda, meskipun kecil kemungkinan untukku balikan sama dia. Setidaknya kembali bertatap muka dengannya sudah menjadi kebahagiaan untukku saat ini.

.TAMAT.


HM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar