Pengikut

Sabtu, 26 Maret 2016

Jantung Hati



Jantung Hati
Rana Tiana seorang perempuan tangguh dalam menjalani hidupnya yang mengidap kanker darah sejak usia nya 17 tahun, ujian hidup yang di hadapinya di jadikannya sebagai motivasi hidup nya untuk selalu bertahan, bagi dia di setiap hari nya adalah sebuah pertarungan dengan dirinya sendiri juga anugerah dari Tuhan yang masih dapat di terima nya.
Sebelum di vonis mengidap penyakit kanker dunia Rana sangat luas dan pergaulannya tanpa batas hingga akhirnya dia memilih untuk mempersempit dunia nya dengan orang-orang tersayang nya, meskipun begitu dia tidak menghilangkan sikap keceriaan yang selalu menghiasi hidupnya. Penyakit yang di idap oleh Rana tak seorang pun orang terdekat nya yang mengetahui nya kecuali kedua orang tua nya. Bagi nya orang lain tidak perlu mengetahui apa yang di rasakannya apalagi kalau timbul rasa simpati terhadapnya. Dia hanya ingin menjadi seorang yang biasa-biasa saja sama seperti lainnya yang tidak memiliki penyakit.
Semua hal dalam hidup selalu di syukuri oleh Rana, saat-saat bersama keluarga nya bersama sahabat-sahabat nya, hingga semua orang yang mengenal nya pasti sangat bahagia dengan sikap hangat dan supel yang di milikinya. Dia pun seorang anak yang aktif dalam beberapa kegiatan organisasi sebelum sakit tentunya, namun dia tidak mau kalah dengan penyakitnya dia hanya meninggalkan beberapa organisasi tapi tidak semua di tinggalkannya, ada sekitar 5 organisasi sebelumnya hingga saat ini hanya ada 2 organisasi yang di gelutinya. Komunitas kepeduliaan anak terlantar dan juga Palang Merah Indonesia, karena bagi nya untuk tetap bergabung dalam organisasi itu dia dapat merasakan rasa syukur yang tiada batas.
Sekarang usia Rana 20 tahun itu berarti 3 tahun sudah penyakit itu menggerogoti tubuhnya, Rana sempat merasakan keputusasaan dalam dirinya selama ini hidupnya hanya bergantung pada obat-obatan dan kemoterapi yang rutin di lakukannya setiap beberapa bulan sekali, bolak-balik rumah sakit telah menjadi rutinitas nya selama ini, semangat hidupnya tetap membara dalam hati nya dia selalu percaya kalau Tuhan takkan membiarkannya lemah akan hidup ini juga dia merasa kalau penyakit yang di deritanya sebagai penebusan segala dosa-dosa nya selama ini asalkan dia ikhlas menjalani semuanya.
Saat ini Rana akan di kemo itu berarti dia harus menginap di Rumah Sakit untuk beberapa hari, hari itu Rana sangat bosan berada di kamarnya sendirian dia ingin berjalan-jalan sebentar untuk menghirup udara segar, para dokter dan suster disana sudah mengenal dengan baik seorang Rana jadi sudah tidak canggung bagi Rana untuk beranggapan seperti Rumah kedua disini dan mendapatkan keluarga baru. Taman adalah tempat favorit Rana kala dia merasa jenuh, mengamati setiap orang yang berada disana membuatnya sering tersenyum sendiri karena melihat kebahagiaan di wajah kebanyakan pasien yang baru sembuh atau sekedar bercengkrama dengan orang-orang tersayangnya.
Tapi mata Rana tertuju pada seorang laki-laki yang saat itu terlihat murung yang memakai baju pasien serta infusan di tangannya, persis seperti dirinya saat itu. Dengan keceriaannya dia menghampiri sang laki-laki itu. Dia berkenalan dan mencoba mengakrabkan diri kepada laki-laki itu, tapi sayangnya sikap laki-laki itu seakan menutup diri terhadap Rana tapi mereka sempat berkenalan namanya Bima. Rana yang sangat penasaran dengan Bima mencoba bertanya pada suster, awalnya suster tidak ingin memberitahunya tapi karena mereka sudah sangat dekat akhirnya suster memberi informasi tentang Bima. Ternyata dia adalah pasien baru di Rumah Sakit itu, dia menderita gagal jantung sejak lahir dan dia baru pindah dari Bandung berharap mendapatkan donor jantung dari Rumah Sakit itu, karena kondisi fisiknya yang semakin lemah makanya dia di rawat disana.
Mendengar penjelasan dari suster muncul rasa prihatin dalam diri Rana, ternyata ada yang jauh lebih menderita di bandingkan dirinya. Dia berkeinginan selama dia bisa berada di Rumah Sakit dia ingin sekali bersahabat dengan Bima, tanpa di sengaja ataupun di sengaja mereka sering sekali berpas-pasan dalam beberapa waktu. Hingga Bima yang tadinya cuek terhadapnya mau berbicara kepadanya langsung, dia bertanya mengapa Rana ada di Rumah Sakit dan bisa mondar-mandir di dalamnya jika hanya pasien biasa tidak akan mungkin dapat akses seperti itu, tapi Rana yang tidak ingin penyakitnya di ketahui oleh orang lain hanya bilang kalau dirinya baru ingin operasi amandel tapi sedang menunggu waktu yang tepat. Dengan penjelasan dari Rana, Bima mengerti dan mulai membuka diri kepadanya. Rana pun sempat kagum terhadap Bima, dia mampu bertahan seumur hidupnya dan dia tetap kuat menjalani semuanya.
Sampai Rana keluar dari rumah sakit dia masih sering untuk menengok Bima, kondisi Bima juga makin lama makin lemah. Tapi dengan keberadaan Rana disisinya seakan semangat hidupnya kembali bersamanya dia melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama. Dengannya senyum Bima kembali hadir di wajahnya, bagi Bima saat itu Rana bagaikan cahaya di kehidupannya yang selama ini gelap. Waktu terus berlalu membuat perasaan Bima kepada Rana semakin dalam, namun dia tak mau mencoba mencintai Rana dia takut kalau perasaan Rana terhadapnya hanyalah rasa Prihatin semata tapi selama hidupnya belum pernah ada perempuan yang bisa dekat dengannya sedekat hubungannya dengan Rana saat itu.
Dia tak kuat menahan perasaannya sendirian, dia mengutarakan perasaannya terhadap Rana tapi dia juga tidak mau berharap lebih apalagi hanya karena dasar kasian Rana dapat menerima cintanya Bima tapi saat itu Bima hanya meminta Rana untuk terus ada di sampingnya sampai dia menutup mata untuk selamanya. Mendengar ungkapan rasa cinta dari Bima, Rana pun berfikir dan bertanya dengan hatinya sendiri dia pun sangat menyayangi Bima dengannya jantungnya selalu bergetar tiap bersamanya.
Dengan penuh pertimbangan Rana bersedia menjadi kekasih untuk Bima, dia pun menjelaskan kalau perasaannya juga tulus kepada Bima bukan dengan dasar rasa kasian. Hati Rana bilang saat itu “hanya dengannya aku berani jatuh cinta, aku berani mengambil resiko untuk ditinggalkan atau meninggalkan” namun Rana juga berfikir alangkah lebih baik kalau dia tetap merahasiakan penyakitnya itu, karena dia tidak mau membuat kekasihnya bersedih sehingga membuat kondisinya semakin drop.
Kisah cinta mereka bagaikan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu untuk itu Rana sudah mempersiapkan diri jika aja dia yang harus mendahului Bima untuk pergi lebih dulu. Kondisi kesehatan Rana semakin lama semakin memburuk hingga dia harus di rawat kembali di rumah sakit dan tidak memberikan kabar untuk Bima, di saat-saat seperti itu kondisi Bima juga semakin menurun. Di rumah sakit yang sama mereka berdua sedang berusaha melawan penyakit yang telah bersamanya selama bertahun-tahun.
Karena satu-satunya cara bagi Bima adalah operasi Transplatasi Jantung hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan untuknya dan keluarganya, dia mendapat donor jantung dan akan melaksanakan operasi. Setelah beberapa hari Bima telah pulih dan dapat hidup secara normal tapi dia kehilangan Rana yang selalu ada di sampingnya. Ketika akan pulang kerumah seorang suster memberikannya sebuah hadiah, saat dia membuka isinya adalah sebuah suiter dan buku diary karena terburu-buru akan pulang dia tidak sempat membaca diary itu ketika di rumah sakit.
Sesampainya di rumah, dia penasaran dengan pemberian dari suster itu. Dia lihat suiter nya dan ada kertas yang terselip yang bertulis “untuk kamu seseorang yang sangat berharga dalam hidupku, aku harap kamu bisa merasakan kehangatan saat memakainya – Rana” Membaca tulisannya itu jantung Bima berdegup sangat kencang dan seakan ada jarum yang menusuk hatinya perasaannya saat itu sangat tidak enak.
Dia mulai membuka isi Diary itu, di halaman depannya ada sebuah kertas yang terselip lagi.
“Aku bahagia kamu bisa sembuh, aku selalu doain yang terbaik untuk kamu.
Maaf aku gabisa lagi ada di samping kamu tapi kamu selalu ada dalam diri aku.
Lewat kamu aku bisa merasakan mencintai dan cintai.
Terima kasih untuk kamu yang bersedia mencintai aku selama ini.
Buku ini aku kasih ke kamu supaya kamu bisa kenal aku lebih jauh lagi, maaf selama ini aku gabisa jujur tentang sebenarnya aku ke kamu.
Aku gamau ngeliat kamu sedih dan kehilangan kebahagiaan kita walau hanya sesaat.
Maaf aku egois harus ngelakuin ini ke kamu, aku cuma pengen kamu bahagia terus
Aku gapernah mati Aku selalu hidup dalam diri kamu.
Kamu jangan pernah ngilangin senyum lagi di wajah ganteng kamu dan jangan lupa untuk bahagia selamanya.”
            Air mata Bima menetes perlahan seakan dia sudah tahu kemana Rana sebenarnya sudah pergi, hari itu dia habiskan hanya untuk membaca Diary keseharian Rana. Dia sudah mengetahui dimana saat ini Rana berada, hatinya sangat terpukul dengan kepergian Rana jika dia bisa memilih dia akan membiarkan dirinya mati untuk Rana. Di dalam buku itu tertulis.“ Kamu ga perlu ngerasa bersalah atau sedih dengan cara ini aku bisa mencintai kamu selamanya” kata-kata yang di siratkan oleh Rana selalu akan di ingat Bima sampai kapanpun.
            Fikiran Bima saat itu tidak karuan, jika dia harus sembuh dan kehilangan Rana dia lebih memilih untuk kembali sakit asalkan Rana tetap disisinya. Tapi dia teringat pesan dari Rana kalau dia harus terus melanjutkan kehidupannya dengan kebahagiaan dan membiarkan Rana hidup dalam dirinya untuk selamanya,tapi sampai kapanpun Rana tetap menjadi satu-satunya Wanita yang dicintainya jika kehidupannya akan berubah dan akan ada wanita baru di hidupnya dia harus menerima Rana menjadi kekasih untuk Bima seumur hidupnya, karena Rana tidak akan pernah mati sebelum Bima menutup mata.
            Lewat Rana Bima banyak belajar tentang kehidupan ini “Terkadang diam untuk orang yang kita sayangi adalah pilihan yang baik, di balik harus menceritakan kenyataan sebenarnya dan membuat dia terluka.”


-TAMAT-
HM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar