Jantung Hati
Rana
Tiana seorang perempuan tangguh dalam menjalani hidupnya yang mengidap kanker
darah sejak usia nya 17 tahun, ujian hidup yang di hadapinya di jadikannya
sebagai motivasi hidup nya untuk selalu bertahan, bagi dia di setiap hari nya
adalah sebuah pertarungan dengan dirinya sendiri juga anugerah dari Tuhan yang
masih dapat di terima nya.
Sebelum
di vonis mengidap penyakit kanker dunia Rana sangat luas dan pergaulannya tanpa
batas hingga akhirnya dia memilih untuk mempersempit dunia nya dengan
orang-orang tersayang nya, meskipun begitu dia tidak menghilangkan sikap
keceriaan yang selalu menghiasi hidupnya. Penyakit yang di idap oleh Rana tak
seorang pun orang terdekat nya yang mengetahui nya kecuali kedua orang tua nya.
Bagi nya orang lain tidak perlu mengetahui apa yang di rasakannya apalagi kalau
timbul rasa simpati terhadapnya. Dia hanya ingin menjadi seorang yang
biasa-biasa saja sama seperti lainnya yang tidak memiliki penyakit.
Semua
hal dalam hidup selalu di syukuri oleh Rana, saat-saat bersama keluarga nya
bersama sahabat-sahabat nya, hingga semua orang yang mengenal nya pasti sangat
bahagia dengan sikap hangat dan supel yang di milikinya. Dia pun seorang anak
yang aktif dalam beberapa kegiatan organisasi sebelum sakit tentunya, namun dia
tidak mau kalah dengan penyakitnya dia hanya meninggalkan beberapa organisasi
tapi tidak semua di tinggalkannya, ada sekitar 5 organisasi sebelumnya hingga
saat ini hanya ada 2 organisasi yang di gelutinya. Komunitas kepeduliaan anak
terlantar dan juga Palang Merah Indonesia, karena bagi nya untuk tetap
bergabung dalam organisasi itu dia dapat merasakan rasa syukur yang tiada
batas.
Sekarang
usia Rana 20 tahun itu berarti 3 tahun sudah penyakit itu menggerogoti
tubuhnya, Rana sempat merasakan keputusasaan dalam dirinya selama ini hidupnya
hanya bergantung pada obat-obatan dan kemoterapi yang rutin di lakukannya
setiap beberapa bulan sekali, bolak-balik rumah sakit telah menjadi rutinitas
nya selama ini, semangat hidupnya tetap membara dalam hati nya dia selalu
percaya kalau Tuhan takkan membiarkannya lemah akan hidup ini juga dia merasa
kalau penyakit yang di deritanya sebagai penebusan segala dosa-dosa nya selama
ini asalkan dia ikhlas menjalani semuanya.
Saat
ini Rana akan di kemo itu berarti dia harus menginap di Rumah Sakit untuk
beberapa hari, hari itu Rana sangat bosan berada di kamarnya sendirian dia
ingin berjalan-jalan sebentar untuk menghirup udara segar, para dokter dan
suster disana sudah mengenal dengan baik seorang Rana jadi sudah tidak canggung
bagi Rana untuk beranggapan seperti Rumah kedua disini dan mendapatkan keluarga
baru. Taman adalah tempat favorit Rana kala dia merasa jenuh, mengamati setiap
orang yang berada disana membuatnya sering tersenyum sendiri karena melihat
kebahagiaan di wajah kebanyakan pasien yang baru sembuh atau sekedar
bercengkrama dengan orang-orang tersayangnya.
Tapi
mata Rana tertuju pada seorang laki-laki yang saat itu terlihat murung yang
memakai baju pasien serta infusan di tangannya, persis seperti dirinya saat itu.
Dengan keceriaannya dia menghampiri sang laki-laki itu. Dia berkenalan dan
mencoba mengakrabkan diri kepada laki-laki itu, tapi sayangnya sikap laki-laki
itu seakan menutup diri terhadap Rana tapi mereka sempat berkenalan namanya
Bima. Rana yang sangat penasaran dengan Bima mencoba bertanya pada suster,
awalnya suster tidak ingin memberitahunya tapi karena mereka sudah sangat dekat
akhirnya suster memberi informasi tentang Bima. Ternyata dia adalah pasien baru
di Rumah Sakit itu, dia menderita gagal jantung sejak lahir dan dia baru pindah
dari Bandung berharap mendapatkan donor jantung dari Rumah Sakit itu, karena
kondisi fisiknya yang semakin lemah makanya dia di rawat disana.
Mendengar
penjelasan dari suster muncul rasa prihatin dalam diri Rana, ternyata ada yang
jauh lebih menderita di bandingkan dirinya. Dia berkeinginan selama dia bisa
berada di Rumah Sakit dia ingin sekali bersahabat dengan Bima, tanpa di sengaja
ataupun di sengaja mereka sering sekali berpas-pasan dalam beberapa waktu.
Hingga Bima yang tadinya cuek terhadapnya mau berbicara kepadanya langsung, dia
bertanya mengapa Rana ada di Rumah Sakit dan bisa mondar-mandir di dalamnya
jika hanya pasien biasa tidak akan mungkin dapat akses seperti itu, tapi Rana
yang tidak ingin penyakitnya di ketahui oleh orang lain hanya bilang kalau
dirinya baru ingin operasi amandel tapi sedang menunggu waktu yang tepat.
Dengan penjelasan dari Rana, Bima mengerti dan mulai membuka diri kepadanya.
Rana pun sempat kagum terhadap Bima, dia mampu bertahan seumur hidupnya dan dia
tetap kuat menjalani semuanya.
Sampai
Rana keluar dari rumah sakit dia masih sering untuk menengok Bima, kondisi Bima
juga makin lama makin lemah. Tapi dengan keberadaan Rana disisinya seakan
semangat hidupnya kembali bersamanya dia melakukan hal-hal yang menyenangkan
bersama-sama. Dengannya senyum Bima kembali hadir di wajahnya, bagi Bima saat
itu Rana bagaikan cahaya di kehidupannya yang selama ini gelap. Waktu terus
berlalu membuat perasaan Bima kepada Rana semakin dalam, namun dia tak mau
mencoba mencintai Rana dia takut kalau perasaan Rana terhadapnya hanyalah rasa
Prihatin semata tapi selama hidupnya belum pernah ada perempuan yang bisa dekat
dengannya sedekat hubungannya dengan Rana saat itu.
Dia
tak kuat menahan perasaannya sendirian, dia mengutarakan perasaannya terhadap
Rana tapi dia juga tidak mau berharap lebih apalagi hanya karena dasar kasian
Rana dapat menerima cintanya Bima tapi saat itu Bima hanya meminta Rana untuk
terus ada di sampingnya sampai dia menutup mata untuk selamanya. Mendengar
ungkapan rasa cinta dari Bima, Rana pun berfikir dan bertanya dengan hatinya
sendiri dia pun sangat menyayangi Bima dengannya jantungnya selalu bergetar
tiap bersamanya.
Dengan
penuh pertimbangan Rana bersedia menjadi kekasih untuk Bima, dia pun
menjelaskan kalau perasaannya juga tulus kepada Bima bukan dengan dasar rasa
kasian. Hati Rana bilang saat itu “hanya dengannya aku berani jatuh cinta, aku
berani mengambil resiko untuk ditinggalkan atau meninggalkan” namun Rana juga
berfikir alangkah lebih baik kalau dia tetap merahasiakan penyakitnya itu,
karena dia tidak mau membuat kekasihnya bersedih sehingga membuat kondisinya
semakin drop.
Kisah
cinta mereka bagaikan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu untuk itu Rana
sudah mempersiapkan diri jika aja dia yang harus mendahului Bima untuk pergi
lebih dulu. Kondisi kesehatan Rana semakin lama semakin memburuk hingga dia
harus di rawat kembali di rumah sakit dan tidak memberikan kabar untuk Bima, di
saat-saat seperti itu kondisi Bima juga semakin menurun. Di rumah sakit yang
sama mereka berdua sedang berusaha melawan penyakit yang telah bersamanya
selama bertahun-tahun.
Karena
satu-satunya cara bagi Bima adalah operasi Transplatasi Jantung hari itu adalah
hari yang sangat membahagiakan untuknya dan keluarganya, dia mendapat donor
jantung dan akan melaksanakan operasi. Setelah beberapa hari Bima telah pulih
dan dapat hidup secara normal tapi dia kehilangan Rana yang selalu ada di
sampingnya. Ketika akan pulang kerumah seorang suster memberikannya sebuah
hadiah, saat dia membuka isinya adalah sebuah suiter dan buku diary karena
terburu-buru akan pulang dia tidak sempat membaca diary itu ketika di rumah
sakit.
Sesampainya
di rumah, dia penasaran dengan pemberian dari suster itu. Dia lihat suiter nya
dan ada kertas yang terselip yang bertulis “untuk
kamu seseorang yang sangat berharga dalam hidupku, aku harap kamu bisa
merasakan kehangatan saat memakainya – Rana” Membaca tulisannya itu jantung
Bima berdegup sangat kencang dan seakan ada jarum yang menusuk hatinya
perasaannya saat itu sangat tidak enak.
Dia
mulai membuka isi Diary itu, di halaman depannya ada sebuah kertas yang
terselip lagi.
“Aku bahagia kamu bisa
sembuh, aku selalu doain yang terbaik untuk kamu.
Maaf aku gabisa lagi ada di
samping kamu tapi kamu selalu ada dalam diri aku.
Lewat kamu aku bisa merasakan
mencintai dan cintai.
Terima kasih untuk kamu yang
bersedia mencintai aku selama ini.
Buku ini aku kasih ke kamu
supaya kamu bisa kenal aku lebih jauh lagi, maaf selama ini aku gabisa jujur
tentang sebenarnya aku ke kamu.
Aku gamau ngeliat kamu sedih
dan kehilangan kebahagiaan kita walau hanya sesaat.
Maaf aku egois harus
ngelakuin ini ke kamu, aku cuma pengen kamu bahagia terus
Aku gapernah mati Aku selalu
hidup dalam diri kamu.
Kamu jangan pernah ngilangin
senyum lagi di wajah ganteng kamu dan jangan lupa untuk bahagia selamanya.”
Air mata Bima menetes perlahan
seakan dia sudah tahu kemana Rana sebenarnya sudah pergi, hari itu dia habiskan
hanya untuk membaca Diary keseharian Rana. Dia sudah mengetahui dimana saat ini
Rana berada, hatinya sangat terpukul dengan kepergian Rana jika dia bisa
memilih dia akan membiarkan dirinya mati untuk Rana. Di dalam buku itu
tertulis.“ Kamu ga perlu ngerasa bersalah
atau sedih dengan cara ini aku bisa mencintai kamu selamanya” kata-kata
yang di siratkan oleh Rana selalu akan di ingat Bima sampai kapanpun.
Fikiran Bima saat itu tidak karuan,
jika dia harus sembuh dan kehilangan Rana dia lebih memilih untuk kembali sakit
asalkan Rana tetap disisinya. Tapi dia teringat pesan dari Rana kalau dia harus
terus melanjutkan kehidupannya dengan kebahagiaan dan membiarkan Rana hidup
dalam dirinya untuk selamanya,tapi sampai kapanpun Rana tetap menjadi
satu-satunya Wanita yang dicintainya jika kehidupannya akan berubah dan akan
ada wanita baru di hidupnya dia harus menerima Rana menjadi kekasih untuk Bima
seumur hidupnya, karena Rana tidak akan pernah mati sebelum Bima menutup mata.
Lewat
Rana Bima banyak belajar tentang kehidupan ini “Terkadang diam untuk orang yang
kita sayangi adalah pilihan yang baik, di balik harus menceritakan kenyataan
sebenarnya dan membuat dia terluka.”
-TAMAT-
HM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar