Bersama dengan
malam aku seperti hidup dengannya
Tak ada seorang
pun yang dapat mengerti ku sebaik dirinya
Kali ini aku
membicarakan tentang kenormalan bagi manusia
Alangkah lucu
mereka semua
Selalu berteriak
kalau dirinya hebat
Selalu berkaca
diatas air yang mengalir
Selalu
membersihkan diri diatas lumpur
Mengenal setiap
orang yang silih berganti menghampiri dunia ku
Perlahan aku mulai
memahami maksud Tuhan menghadirkan mereka ke dalam hidupku
Dengan membawa
mawar berduri mereka begitu mudah mengenalku
Tapi aku tanpa
sadar mengambilnya dan tak menghiraukan duri itu
Hingga aku terluka
mereka hanya tersenyum
Alangkah lucunya
mereka semua
Tertawa dengan
pembelajaran yang berhasil aku curi darinya
Mereka telah
mengambil keluguan ku dan menggantikannya dengan keelokan ku
Mengenal satu
persatu mereka semua
Menyadarkan ku
bahwa ciptaan Tuhan memang selalu sempurna
Selalu ada
kekurangan yang menutupi kesombongan dari kelebihan itu sendiri
Tidak ada kanvas
yang tetap putih dalam dunia ini
Mereka selalu
meninggalkan goresan dalam setiap lukisan yang indah
Aku sinis melihat
mereka yang menghitung kemurnian dalam dirinya sendiri
Seakan tak pernah
ada tulisan hitam dalam hidupnya
Aku tersenyum
mendengar mereka yang mengumbar ketidakwarasan dalam dirinya sendiri
Seakan mereka
berhasil membodohi diantara mereka pula
Tapi aku hanya
bisa diam
Ketika menyadari
diantara mereka memiliki kehidupan bak istana negri dongeng
Sementara di
samping kehidupannya bagaikan negri dari liliput
Miris hati menahan
segala amarah yang telah lama terpendam
Aku pula bukan
manusia suci yang hidup tanpa tinta hitam
Setidaknya aku
sudah berusaha keras untuk menghapus warna gelap dalam hidupku
Meskipun tak akan
bisa menjadi putih lagi
Biarlah bekas itu
mengingatkan ku akan kegilaan ku
Agar aku dapat
hidup normal selayaknya pemikiran warasku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar