Pengikut

Jumat, 25 Maret 2016

Bukan Rama dan Shinta



Bukan Rama dan Shinta
Putri Rashinta seorang gadis SMA yang sedang di cumbu asrama dengan sahabat kecil nya Rama Refian, keduanya sudah memulai persahabatan sejak masih balita dulu karena memang orang tua mereka yang berteman dan berusaha menjodoh-jodohkan mereka. Mulai sejak SD Rama sempat mengutarakan perasaannya kepada Shinta namun selalu di tolaknya hingga akhirnya ketika mereka SMA dan berusia 17 tahun Shinta baru memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya.
Meskipun mereka menjalin sebuah hubungan lebih dari sekedar teman tapi mereka sama sekali tidak saling tertutup atau jaim satu sama lain, bagi mereka hanya status yang berubah di antara mereka. Shinta sangat merasa beruntung karena memiliki Rama yang terkenal supel, suka olahraga, aktif berorganisasi dan di idolakan oleh teman-temannya, sementara Putri hanyalah gadis biasa namun berprestasi di akademiknya hingga tak jarang pula orang-orang mengenalnya.
Kedua nya bagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi begitulah anggapan orang-orang yang sangat tahu tentang kedekatan mereka, orang tua mereka masing-masing pun sudah mengganggap mereka sebagai anak mereka sendiri. Tak sedikit banyak perempuan di sekolah entah itu senior junior atau bahkan yang sebaya dengan mereka yang naksir dengan karisma yang dimiliki Rama, namun tak jarang ada beberapa senior yang melirik Shinta karena pesona kecerdasannya. Selain banyak yang mendukung hubungan mereka banyak orang yang menyayangkan kedua nya berpacaran karena ada yang berpendapat kalau Rama terlalu sempurna untuk Shinta ataupun sebaliknya.
Waktu terus berlalu hingga sudah satu setengah tahun lebih mereka berpacaran dan sekarang mereka telah berada di akhir masa SMA, keduanya memiliki impian universitas yang berbeda. Sempat terfikir kalau jika nanti mereka LDR akan menggoyah hubungan atau menghambat komunikasi di antara mereka berdua, namun kepercayaan mereka yang masih terjaga antara satu sama lain akhirnya mereka berkomitmen untuk terus mempertahankan hubungan mereka.Setelah ujian akhir mereka selesai dan hasilnya sudah keluar Shinta akan kuliah di Bandung sementara Rama tetap di Jakarta.
Selama libur menunggu masuk kuliah kali ini Rama mulai berubah, dia tak sesering dulu menghubungi Shinta, jangankan untuk bertemu atau mengajaknya jalan memberi kabar kepadanya pun jarang sekali. Shinta yang mencoba untuk tetap berpositif thinking kepada pacarnya itu selalu berfikiran baik akan Rama meskipun tak jarang sering terjadi perdebatan dalam hatinya sendiri tapi dia berusaha untuk tetap sabar demi terjaganya hubungan mereka, asalkan baginya setelah Rama selesai dengan kesibukannya dia masih ingat untuk memberi kabarnya.
Kini tiba saatnya Shinta untuk berangkat ke Bandung, namun Rama tak memberi kabar sedikitpun meskipun sudah diberitahu hari keberangkatannya. Kembali Shinta menyembunyikan kekecewaannya dengan beralibi terhadap dirinya sendiri kalau Rama saat ini sangat sibuk dengan segudang kegiatannya. Setelah sampai di Bandung, Rama baru mengabari nya dan berjanji kalau minggu depan akan mengunjunginya di Bandung.
Shinta yang saat itu menjadi MABA dan orang baru di Kota Bandung sengaja menemui kaka Rama yang kuliah di sana juga namun beda Universitas dia bersedia menemaninya berkeliling Bandung selama beberapa hari ini. Saat itu ketika Rama tiba di Bandung, dia melihat kalau Shinta terlihat sangat mesra dengan kaka nya. Tanpa pikir panjang Rama cemburu buta dengan mereka berdua, penjelasan yang di dengarkannya seakan tak menutupi rasa sakit hatinya di mulutnya dia bilang percaya tapi tidak di hatinya.
 Rama makin jarang menghubungi Shinta lagi, hanya beberapa kali dalam seminggu itu pun hanya ucapan semangat dan selamat pagi Shinta pun merasa sudah ada yang tidak beres dalam hubungan mereka, dia memutuskan akan ke Jakarta ketika libur semester nanti dan juga ingin merayakan hari  Annivesary kedua dan tahun baru. Seminggu sebelum hari yang di tunggu-tunggu Shinta dia bertemu di sebuah cafĂ© dengan sahabat sekolahnya dulu mereka sangat dekat dia kuliah di tempat yang sama dengan Rama dan bercerita kalau waktu semasa sekolah dia sempat beberapa kali memergoki Rama sedang bersama perempuan-perempuan lain begitupun saat kuliah sekarang.
Ketika mereka sedang membicarakan Rama, tiba-tiba datang seseorang yang memanggil sahabatnya Shinta dan tak lama setelah itu datang lah Rama. Betapa terkejutnya ketika itu teman dari sahabatnya shinta mengenal kan Rama sebagai pacarnya kepada mereka berdua, tak tergambarkan rasa kekecewaan yang ada dalam diri Shinta. Sejak kejadian itu Rama yang selalu berusaha meminta maaf berkali-kali terhadapnya tak mendapat jawaban apa-apa, hingga tiba saatnya Shinta meminta Rama untuk pergi ke suatu tempat saat malam pergantian tahun.
Malam itu tepat 1 jam sebelum hitung mundur tapi Rama belum kunjung datang, hingga detik-detik terakhir di tahun itu Rama baru memperlihatkan dirinya di hadapan Shinta dengan segala alasannya Rama bilang kalau dia habis ngumpul bersama teman-temannya. Cukup lama mereka terdiam setelah menghitung mundur bersama tahun telah berganti dan hari ini tepat kedua tahun usia pacaran mereka. Shinta mulai membuka mulut untuk berbicara dengan Rama.
“cewe kemaren itu pacar kamu?” Tanya Shinta
Cukup lama Rama diam dan tidak menjawab pertanyaan Shinta, dia malah mengalihkan pembicaraan dengan topik lain.
“kamu aneh, kamu bukan Rama yang aku kenal dulu”
“semua orang itu bisa berubah sayang, tapi percaya sama aku di hati aku Cuma ada kamu”
“2 hal yang berubah dari seseorang itu, jadi lebih baik atau sebaliknya. Terus kenapa kamu jalan sama cewe lain?”
            Rama memberikan penjelasan panjang lebar untuk Shinta, menurutnya hubungannya dengan perempuan-perempuan lain hanyalah rasa Have Fun gelora muda tapi di hati nya cuma ada Shinta.
“sekarang aku ngerti, kenapa kamu marah banget pas kamu ngeliat aku lagi sama kaka kamu. Seorang pengkhianat pasti tau cara nya untuk berkhianat. Tapi sayang aku terlalu lama untuk ngerti semua ini.”
“Shinta maafin aku, aku cuma pengen cari suasana baru sama cewe lain. Kamu pantes marah kok sama aku”
“aku gak lagi marah kok, aku lagi dengerin curhatan sahabat aku sama kaya 2 tahun yang lalu. Curhatan kamu tentang semua cewe yang ngejar-ngejar kamu dulu, tapi kamu terburu-buru untuk ngubah status hubungan kita”
“Sayang, bagi aku kamu itu kampung halaman aku. Sejauh apapun aku akan melangkah pasti nantinya aku akan kembali sama kamu. Aku mohon kamu ngertiin aku ya”
“kan kita sahabatan dari dulu, mana mungkin aku gabisa ngerti kamu. Tapi aku gamau jadi gadis desa yang nunggu kekasihnya yang lagi merantau tanpa tau kapan akan kembali, aku gabisa selugu itu.”
“aku cuma mau main-main sama mereka sayang, aku serius nya sama kamu doang”
“kalo gitu biar aku main dengan cara aku sendiri, hubungan kita gak berubah tetep jadi sahabat sama kaya dulu. Aku sayang kamu sampai kapanpun sayang kamu, kamu juga ngerti kalau aku orang yang kaya gimana”
“yaudah kalo kamu mau nya kaya gitu, tapi bisa gak kamu janji untuk selalu jaga diri buat aku?”
“kenapa harus buat kamu, aku akan selalu  jaga kehormatan aku sebagai perempuan tanpa kamu suruh pun karena aku bukan cewe gampangan yang bisa nemplok sana sini sama cowo lain. Biar cuma waktu yang membawa takdir kalo kita emang harus bersama”
“kamu pasti kecewa banget ya sama aku. Maafin aku belom bisa jadi yang terbaik buat kamu, aku masih terlalu kekanak-kanakan untuk ngimbangin kamu. Suatu saat nanti aku pasti kembali buat kamu dengan semua penyesalan”
“semoga kamu belum terlambat buat nyesel,saat ini mungkin kamu lagi berubah menjadi lebih buruk dari sebelumnya, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa jadi jauh lebih baik dari sekarang dan aku akan terus dukung kamu karena aku sahabat kamu sampai kapanpun”
            “jadi intinya kamu gaakan mau milikin aku lagi Shin?”
“aku gak bisa bilang iya atau enggak sama sesuatu yang belum tentu terjadi kedepannya. Kita emang harus terus belajar memahami tentang kehidupan ini Ram. Kepercayaan aku sebelum ini sama kamu itu ibarat kertas putih kosong dan kamu terus mencorat-coretnya sementara aku berusaha terus ngapusnya, jadi percayaan aku gabisa 100 % lagi sama kamu”
“tapi aku sayang banget sama kamu, aku punya mimpi untuk ngebangun keluarga sama kamu. Maafin aku kalo aku emang keterlaluan”
“aku percaya kamu sayang aku, tapi mungkin aku kurang menarik di banding cewe-cewe kamu yang lain. Orang waras mana bisa terima kalo kekasih hatinya berkhianat di depan matanya, kalo aku emang spesial kamu gaakan cari suasana baru sama cewe lain. Satu hal yang perlu kamu tau, kamu gak boleh nyakitin perasaan orang lain karena suatu saat nanti kamu pasti ngerasain gimana rasa sakit itu.”
“saat ini aku udah ngerasain kok, makasih kamu udah ngajarin aku berbagi rasa sakit itu. tapi nanti aku pasti bakal ngejar kamu lagi dan aku harap gaakan ada kata terlambat untuk itu”
Setelah malam itu dengan percakapan yang cukup panjang dengan Rama, Shinta kembali ke Bandung menjalankan kehidupannya seperti sebelum itu. Banyak hal yang di fikirkan Shinta tentang Rama banyak hal juga yang selalu dia pertanyakan dalam hatinya, buatnya Rama tetaplah jadi Cinta Pertama nya dan bila mungkin dia bukan Cinta Terakhir untuknya Shinta harus terima kenyataan itu.
            Sedangkan kehidupan Rama semakin lama dia semakin jenuh dengan kebebasan yang dimilikinya sekarang, jauh di lubuk hatinya dia sangat merindukan Shinta tapi dia takut masih belum cukup dewasa untuk memperbaiki kesalahan fatalnya itu.
            Waktu terus berlalu meninggalkan setiap tahun ke tahun, hubungan keduanya perlahan mulai membaik seperti dulu hingga saat lulus kuliah Shinta kembali ke Jakarta dan bekerja memulai kehidupan baru dengan menutup masa lalu nya dengan Rama.
            Kini sudah tiba saatnya bagi Rama untuk kembali memiliki Shinta, malam itu dia berniat untuk melamar Shinta dan datang kerumahnya namun setiba nya disana dia mendapati kalau Shinta sedang berbicara dengan laki-laki lain juga kedua orang tua Shinta. Rama yang sudah di anggap anak sendiri dengan keluarga Shinta ikut serta dalam pembicaraan mereka dan ternyata laki-laki tersebut sedang meminta Shinta untuk di pinang nya. Saat itu juga dunia Rama seakan hilang semua, harapannya akan Shinta sudah tidak tersisa lagi di hidupnya.
            Ketika laki-laki itu sudah pulang dan Rama berbicara dengan Shinta untuk menanyakan apakah dia mau menerima orang itu sebagai suaminya kelak.
            “itu tadi pacar kamu?”
            “bukan, dia dulu senior aku waktu kuliah kita gak pernah pacaran”
            “tapi dia tadi baru ngelamar kamu loh, kamu terima?”
“hati aku sih yakin sama dia, dia orangnya berkomitmen dan dewasa aku rasa aku udah jatuh hati sama ketulusannya. Pacar kamu gimana ?”
“baguslah kalo kamu bisa nemuin yang terbaik, aku gabisa punya pacar lagi sejak kita putus. Hati aku selalu nyalahin diri aku sendiri udah ngekhianatin kamu dulu”
            “udahlah yang dulu biar jadi masa lalu aja, lagi pula kita udah punya kehidupan yang baru kan”
[Kehidupan aku yang baru adalah kehidupan tanpa kamu Shin] gumam Rama dalam hatinya.
Tapi rencana yang sudah dia siapkan haruslah di jalaninya, sebelum dia pergi dia memberikan cincin dan menggenggamkannya di tangan Shinta yang di niatkannya untuk melamar Shinta tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Melihat apa yang kini di genggamnya Shinta meneteskan air matanya, dia teringat dengan kata-katanya dulu. Apakah dia bersedia menjadi gadis desa yang masih setia menunggu dan bersedia menerima setelah kekasih hatinya telah berkelana cukup jauh.

.TAMAT.
HM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar