Ruang dan Waktu
Kaya,
tampan dan terkenal begitulah seseorang yang di kenal sebagai Farel Renaldy,
hidup di zaman yang serba canggih dengan segala kemewahan membuat kehidupannya
terlihat sebegitu sempurna di mata semua orang. Apa yang di lihat orang lain
tidak ada yang membenarkan pemahamannya akan hidup ini, namun memang cara dia
menjalani semua ini seolah meyakinkan setiap orang yang mengenalnya bahwa dia
sangat menikmati semua hal yang dimiliki nya. Gaya hidup yang serba modern
serta segala aspek kehidupannya yang selalu berkecukupan membuat semua hal di
hidupnya terasa mudah di pandangan mata orang lain.
Hidup
sendiri dengan segala kemewahan seakan terbangun ruang di antara dunia nya
sendiri, tanpa ada orang tua yang tinggal seatap dengannya. Begitu lah
kehidupan nya selama ini sejak dia lahir hingga dewasa tak ada gambaran tentang
sosok orang tua di matanya, bahkan untuk perduli kepada orang tuanya sudah tak
terlintas di pikirannya(dimana orang tuanya, sedang apa mereka, kapan mereka
akan kembali bertemu) pikiran-pikiran semacam itu tak pernah menganggu dirinya
setelah dia tahu cara untuk bertahan kehidupannya sendiri. Segala kemewahan
memang di dapatkan dari semua jerih payah kedua orang tua nya yang pembisnis
dan untuk saat ini dia telah mewarisi beberapa hotel yang sudah atas nama nya
sendiri.
Semua
hal yang dimilikinya tidak pernah terasa sempurna di hidupnya, bagi nya selama
ini hidup terasa dingin di hatinya. Tuhan memang menciptakan manusia dengan
kodrat untuk saling membutuhkan satu sama lain, namun bagi nya semua orang yang
dekat dengannya tidak akan menyadari keberadaannya jika saja dia tidak memiliki
semua hal ini, tapi ada satu orang yang bisa di kategorikannya sebagai teman.
Karena hanya dia yang seakan menutup mata dengan latar belakang kehidupannya.
Dia lah Reza Raditya, seorang pemuda sebaya dengan nya dengan kehidupan serba
kecukupan juga memiliki kecerdasan yang sangat jenius, ambisi di hidup nya
adalah menemukan alat untuk menjelajah waktu. Ide yang sangat terdengar gila
dan mustahil untuk tercipta alat seperti itu.tapi itulah yang disukai Farel terhadap Reza, keautisannya itu lah
yang membuat nya terlihat tulus di mata Farel.
Sejak
kuliah hingga 6 tahun terakhir ini Reza memang sangat sibuk untuk penemuan nya
itu, maka itu tak jarang Farel mengunjungi nya untuk sekedar ngobrol dan
menganggu nya. Tapi hari itu seakan sebuah sejarah bagi Reza karena dia telah
berhasil membuat alat yang sangat di impikannya itu, sekarang dia butuh
seseorang untuk mencoba alat temuannya tersebut dan Farel menyanggupinya.
Perjalanan
dimulai, Farel berada di malam hari 50 tahun sebelum sekarang, penampilan nya
membuat orang lain melihatnya seakan manusia dari planet lain karena sangat
berbeda dengan orang-orang di jaman itu. Dia bingung sekarang berada di mana
dan harus bagaimana semuanya terasa asing untuknya, dia hanya berjalan
mengikuti arah kaki hingga akhirnya dia melihat seorang anak kecil yang duduk
sendirian di bawah pohon, awalnya dia hanya mengamati anak itu setelah setengah
jam berlalu dia berniat untuk menghampiri anak tersebut.
Melihat
tatapan anak itu rasanya terpendam banyak amarah di dirinya, Farel makin
penasaran dengannya tak mudah untuk membuatnya mau berbicara atau berkenalan.
Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya anak tersebut mau menanyakan sesuatu
kepada Farel dan dari situ percakapan mulai berlangsung, ternyata anak itu
sedang menunggu ibu nya untuk pulang kerja di dalam salah satu bar dekat daerah
sana. Setelah tau tujuan anak itu duduk dan tak beranjak dari situ, Farel
merasa sangat aneh. Anak itu berusia sekitar 7 tahun dan harusnya dia sudah
mengerti seperti apa pekerjaan ibu nya bila bekerja di dalam bar, tapi mengapa
dia justru menunggu ibunya untuk pulang kerja? Bukankah seharusnya dia malu atau
bahkan tidak mau tau apa yang ibu nya kerjakan, tapi dia seakan melindungi
ibunya. Rasa penasaran Farel yang membuatnya tetap duduk menemani anak
tersebut, setidaknya dia hanya ingin tahu bagaimana seorang ibu yang di
tunggunya.
Sekarang
sudah dinihari tapi ibunya belum juga muncul, Farel yang tadi nya khawatir
tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan anak itu kalau dirinya sudah
terbiasa menunggu ibunya hingga larut malam, dia hanya tidak bisa pulang tanpa
ibunya. Anak itu juga bercerita dia tidak bisa memasuki tempat pekerjaan ibu
nya itu karena pasti dirinya akan diusir oleh orang-orang disana. Farel pun
menceritakan tentang dirinya yang baru datang dari kota lain sehingga tidak tau
arah dan tujuannya saat ini ditambah dia telah kehilangan seluruh barang-barangnya,
akhirnya Farel membuat kesepakatan kalau dia ingin diajak pulang kerumah anak
itu tapi anak itu bilang tergantung persetujuan dari mamahnya.
Setelah
lama menunggu akhirnya seorang wanita menghampiri anak tersebut dan Farel
langsung memperkenalkan dirinya dan menjelaskan maksud dan tujuannya saat itu.
Ibu dari anak itu bernama Mawar, dari perkiraan Farel umur wanita itu hampir
sebaya dengannya. Awalannya mawar tidak bersedia membawa Farel kerumah tapi
dengan Farel memasang muka yang memprihatinkan akhirnya dia mengiyakan
permintaannya. Rumahnya tidak terlalu jauh dari situ Farel hanya perlu berjalan
kaki sekitar 15 menit sudah sampai di kediaman mereka tapi alangkah terkejutnya
Farel melihat suasana kumuh di lingkungan sekitar disana, karena tak ada
pilihan lain malam ini Farel harus bermalam disana.
Menjelang
subuh Farel terbangun, dia melihat mawar itu sedang mempersiapkan diri untuk
berangkat ke mushola dekat rumahnya setelah Mawar pergi Farel baru bangun dan
mengamati seisi rumahnya. Disana Farel melihat ada foto pernikahan Mawar juga
ada foto seorang laki-laki, tapi herannya tidak ada foto anaknya Mawar yang di
pajang di dinding. Setelah itu Farel hanya duduk di bangku yang ada disana dia
masih sangat bingung untuk beradaptasi disana, membuyarkan lamunan Farel
anaknya Mawar menyadarkannya dan mengajaknya untuk sholat subuh berjamaah.
Sehabisnya sholat subuh Mawar sedang menyiapkan sarapan dan pakaian seragam
sekolah anaknya.
Setelah
mereka sarapan dan anaknya Mawar sudah berangkat sekolah, Farel memberanikan
diri untuk bertanya terhadap Mawar untuk memperjelas keberadaan dirumahnya
tidak akan menimbulkan masalah.
“mbak,
apa gapapa saya nginap disini sama suaminya?”
“dia
juga gakakan pernah tau kok, saya aja gak tau kapan dia pulang”
Mendengar
jawaban Mawar, Farel merasa tak enak hati dan dia berjanji kalau akan mengganti
biaya penginapannya namun dengan kemurahan hati Mawar yang seakan merasakan
kemalangan Farel yang tertimpa musibah kehilangan seluruh barang-barangnya saat
tiba di ibukota malah menawarkan untuk menetap disana sebelum dia mendapatkan
pekerjaan juga meminjamkan pakaian suaminya.
Sudah
2 hari Farel bersama Mawar dan anaknya dia makin tertarik melihat kehidupan di
sekitaran mereka, pantas saja Mawar tidak khawatir kalau Farel berada
dirumahnya atau takut ada fitnah yang tak sedap ternyata di lingkungan rumahnya
hanyalah masyarakat yang bermata pencaharian rata-rata sebagai wanita malam.
Tertarik nya Farel adalah dia tak pernah menyangka bahwa sejak jaman dulu
kehidupan gelap seperti ini sudah banyak dirasakan sebagian orang dan pada
jaman nya tempat ini dikenal sebagai tempat prostitusi kalangan bawah, tak
jarang pula dirinya di goda oleh tetangga sekitaran disana tapi itu hanya
membuatnya tertarik untuk mengetahui latar belakang dari tiap orang
disini.Untuk mengakhiri rasa penasarannya Farel bertanya terhadap Mawar kenapa
perempuan-perempuan disini memilih hidup yang seperti itu. Ternyata tidak
banyak dari mereka yang sengaja mau bekerja seperti itu kebanyakan mereka hanya
korban tipuan dan ada juga yang untuk bertahan hidup.
Mawar
menanyakan kepada Farel apakah dia tidak mau mencari pekerjaan di sini atau dia
menawarkan pinjaman untuk pulang ke kota asalnya. Farel yang bingung mau jawab
apa, akhirnya dia menceritakan kalau dia bisa sampai disana karena sebuah
perjalanan waktu. Mawar yang tidak percaya malah menertawakan dan bilang kalau
dirinya stress akibat kehilangan barang-barangnya, dengan upaya pembuktiannya
Farel menunjukan ktp dan memperlihatkan uang di jamannya. Dengan rasa yang
terkejut akhirnya Mawar mempercayainya.
Hari
demi hari waktu berlalu kedekatan Farel dan Mawar pun makin intens dia mencoba
membantu mawar untuk merapihkan rumah dan menjaga anaknya selagi malam mawar
bekerja, tapi semua hal yang di kerjakannya jarang sekali yang beres. Mawar
yang makin simpati dengan Farel berusaha mengajarkan sedikit hal-hal tentang
kehidupannya dan Farel mulai tertarik dengan sosok Mawar yang tangguh juga
tegar dalam menjalani hidupnya apalagi kesetiaan penantian terhadap suaminya
menjadi nilai tambah untuk kesempurnaan yang dimiliki Mawar.
Saat
tengah malam Mawar baru pulang bekerja dia melihat anaknya dan Farel sedang
tertidur bersama, dia hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati andai saja
Farel itu adalah suaminya alangkah bahagianya hidup baginya. Tapi setidaknya
dia bersyukur sejak ada Farel anaknya ta perlu lagi menunggunya pulang kerja
dan kehidupan anaknya pun mulai membaik karena ada yang memperhatikannya selain
Mawar sendiri. Secara tak sadar Farel melihat pandangan Mawar dan langsung
terbangun untuk menyambutnya pulang kerumahnya.
“baru
pulang ya mbak..”
“iya
rel, kamu tidur aja lagi sana”
“saya
tadi Cuma ketiduran abis bercanda sama radit”
“oh,
makasih ya kamu udah jagain dia selama saya kerja”
“biasa
aja lagi mbak, saya juga disini numpang. Mbak apa ga cape kerja kaya gini?”
“abis
mau kerja apalagi dong, saya cuma bisanya kaya gini lagipula pendapatannya
lumayan. daripada jual diri kaya cewe-cewe lain disini, mending jadi pelayan
bar aja yah paling di colek-colek dikit sama laki-laki idung belang”
“gitu
ya mbak, emangnya suami mbak ga ngirim uang tiap bulannya?”
“saya
aja gatau dia dimana sekarang, entah masih hidup atau udah meninggal. Yang saya
bisa lakuin cuman doain yang terbaik buat kehidupannya, dia mungkin masih marah
sama saya”
“kenapa
mbak? Kalau saya boleh tau, bukan maksud untuk mencampuri kehidupan pribadi
mbak”
“dulu
saya kerja jadi pembantu rumah tangga karena majikan saya pindah keluar kota
saya juga di ajak dan ga pulang selama satu tahun lebih waktu saya pulang saya
bawa Radit, disitu kita berantem hebat.saya dituduh selingkuh karena pulang
udah bawa anak.”
“loh
emangnya dia bukan bapaknya Radit mbak?”
“saya
juga bukan ibu nya Radit, tanpa denger penjelasan dari saya dia pergi gitu aja.
Padahal saya itu pulang ke sini di telfon sama sahabat saya yang mau melahirkan
dia itu ibunya Radit tapi abis ngelahirin Radit dia meninggal dan titipin Radit
ke saya. Saya aja ga tau bapaknya yang mana “
Mendengar
cerita panjang lebar dari Mawar, Farel tak henti-hentinya memuji dirinya
rasanya dia mau menetap di jaman itu dan menjadikan Mawar sebagai tambatan
hatinya kelak. Di matanya Mawar adalah wanita paling sempurna yang pernah dia
kenal.Seiring berjalannya waktu Farel mulai panik kenapa dia bisa berada di
zaman ini selama berhari-hari bahkan sudah hampir 2 minggu disini, tapi sisi
baiknya kalaupun dia tak bisa kembali dia bersedia untuk menetap di zaman ini
dan hidup berkeluarga bersama Mawar.
Hari
ini Farel ingin mengungkapkan perasaan kekagumannya terhadap Mawar dia sadar
kalau rasa untuk Mawar adalah bukan suatu hal yang lazim, dia juga mengerti
kalau Mawar masih setia menunggu suaminya pulang meski harapannya hanyalah
sehelai rambut dia dengan keteguhan hatinya tetap menjaga kehormatannya. Dengan
segala kehalusan Mawar menolak perasaan Farel itu.
“kalau
aja kita terlahir di zaman yang sama, saya adalah satu-satunya laki-laki yang
harus ngedapetin kamu dan bahagiaan kamu. Cinta tak kenal ruang dan waktu
sekarang saya mencintai kamu lebih dari saya mencintai diri saya sendiri
kalau
aja saat ini saya adalah orang jahat yang bisa ngerusak penantian akan
kesetiaan kamu saya bakal berubah jadi orang baik dalam sesaat ketika kamu ada
di pelukan saya”
Mendengar
kata-kata yang diucapkan Farel, Mawar meneteskan air mata berulang-ulang.
Rasanya dia merasakan ketulusan hati Farel untuk dirinya. Selama ini dia juga
merasa nyaman ketika bersamanya, namun perbedaan antara mereka sangat tidak
mungkin untuk di persatukan. Apalagi mereka dari zaman yang berbeda.
Tak
lama setelah pengungkapan hatinya itu Farel hanya terduduk di depan teras dia
melihat cahaya besar dari balik pohon, rasa penasaran yang menuntun untuk
menghampirinya. Cahaya itu seakan menarik untuk masuk ke dalamnya. Dari
kejauhan dia menatap ke arah rumah Mawar dan datang seorang pria yang sedang
memeluk nya dengan penuh haru, Farel sadar kalau ini waktunya untuk kembali ke
masa nya. Mawar yang sedang berpelukan dengan laki-laki itu melambaikan tangan
dan meneteskan air matanya.
Dengan
sekejap Farel pun kembali dan melihat Reza, disitu Reza menanyakan apa yang
terjadi terhadapnya karena raut wajah murung yang di perlihatkan Farel setiba
di hadapannya. Dia menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya lewat mesin
waktu itu dan meminta Reza untuk membawanya kembali ke masa itu tapi Reza tidak
bisa mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
Setelah
beberapa hari Farel kembali ke kehidupan normalnya itu, dia mencoba mencari
keberadaan Mawar beserta keluarga lewat beberapa media dan data yang
dimilikinya dengan kegigihan kerja keras nya dia menemukan sosok Radit dewasa
yang sudah memiliki anak cucu. Kalau di hitung-hitung usia nya pun jauh lebih
tua dengan Farel sekarang tapi yang dia ingin tau adalah keberadaan ibunya dan
bagaimana dengan laki-laki yang pernah dia lihat memeluk ibunya.
Tak
peduli seberapa jauh usaha Farel untuk mendekati keluarga Radit, baginya Farel
adalah orang asing aneh yang menceritakan hal yang tak masuk akal bahkan Radit
pun tak mengingat bagaimana Farel bisa memasuki kehidupannya di masa lalu. Saat
Radit mulai menerima cerita gila dari Farel dirumahnya itu dia melihat seorang
perempuan cantik berparas wajah persis seperti Mawar tapi lebih muda beberapa
tahun dari Mawar yang dikenalnya dulu dan ternyata wanita itu adalah cucu dari
Radit yang sedang berkunjung kerumahnya saat itu.
.TAMAT.
HM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar