Pengikut

Jumat, 25 Maret 2016

Ruang dan Waktu


Ruang dan Waktu
Kaya, tampan dan terkenal begitulah seseorang yang di kenal sebagai Farel Renaldy, hidup di zaman yang serba canggih dengan segala kemewahan membuat kehidupannya terlihat sebegitu sempurna di mata semua orang. Apa yang di lihat orang lain tidak ada yang membenarkan pemahamannya akan hidup ini, namun memang cara dia menjalani semua ini seolah meyakinkan setiap orang yang mengenalnya bahwa dia sangat menikmati semua hal yang dimiliki nya. Gaya hidup yang serba modern serta segala aspek kehidupannya yang selalu berkecukupan membuat semua hal di hidupnya terasa mudah di pandangan mata orang lain.
Hidup sendiri dengan segala kemewahan seakan terbangun ruang di antara dunia nya sendiri, tanpa ada orang tua yang tinggal seatap dengannya. Begitu lah kehidupan nya selama ini sejak dia lahir hingga dewasa tak ada gambaran tentang sosok orang tua di matanya, bahkan untuk perduli kepada orang tuanya sudah tak terlintas di pikirannya(dimana orang tuanya, sedang apa mereka, kapan mereka akan kembali bertemu) pikiran-pikiran semacam itu tak pernah menganggu dirinya setelah dia tahu cara untuk bertahan kehidupannya sendiri. Segala kemewahan memang di dapatkan dari semua jerih payah kedua orang tua nya yang pembisnis dan untuk saat ini dia telah mewarisi beberapa hotel yang sudah atas nama nya sendiri.
Semua hal yang dimilikinya tidak pernah terasa sempurna di hidupnya, bagi nya selama ini hidup terasa dingin di hatinya. Tuhan memang menciptakan manusia dengan kodrat untuk saling membutuhkan satu sama lain, namun bagi nya semua orang yang dekat dengannya tidak akan menyadari keberadaannya jika saja dia tidak memiliki semua hal ini, tapi ada satu orang yang bisa di kategorikannya sebagai teman. Karena hanya dia yang seakan menutup mata dengan latar belakang kehidupannya. Dia lah Reza Raditya, seorang pemuda sebaya dengan nya dengan kehidupan serba kecukupan juga memiliki kecerdasan yang sangat jenius, ambisi di hidup nya adalah menemukan alat untuk menjelajah waktu. Ide yang sangat terdengar gila dan mustahil untuk tercipta alat seperti itu.tapi itulah yang disukai  Farel terhadap Reza, keautisannya itu lah yang membuat nya terlihat tulus di mata Farel.
Sejak kuliah hingga 6 tahun terakhir ini Reza memang sangat sibuk untuk penemuan nya itu, maka itu tak jarang Farel mengunjungi nya untuk sekedar ngobrol dan menganggu nya. Tapi hari itu seakan sebuah sejarah bagi Reza karena dia telah berhasil membuat alat yang sangat di impikannya itu, sekarang dia butuh seseorang untuk mencoba alat temuannya tersebut dan Farel menyanggupinya.
Perjalanan dimulai, Farel berada di malam hari 50 tahun sebelum sekarang, penampilan nya membuat orang lain melihatnya seakan manusia dari planet lain karena sangat berbeda dengan orang-orang di jaman itu. Dia bingung sekarang berada di mana dan harus bagaimana semuanya terasa asing untuknya, dia hanya berjalan mengikuti arah kaki hingga akhirnya dia melihat seorang anak kecil yang duduk sendirian di bawah pohon, awalnya dia hanya mengamati anak itu setelah setengah jam berlalu dia berniat untuk menghampiri anak tersebut.


Melihat tatapan anak itu rasanya terpendam banyak amarah di dirinya, Farel makin penasaran dengannya tak mudah untuk membuatnya mau berbicara atau berkenalan. Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya anak tersebut mau menanyakan sesuatu kepada Farel dan dari situ percakapan mulai berlangsung, ternyata anak itu sedang menunggu ibu nya untuk pulang kerja di dalam salah satu bar dekat daerah sana. Setelah tau tujuan anak itu duduk dan tak beranjak dari situ, Farel merasa sangat aneh. Anak itu berusia sekitar 7 tahun dan harusnya dia sudah mengerti seperti apa pekerjaan ibu nya bila bekerja di dalam bar, tapi mengapa dia justru menunggu ibunya untuk pulang kerja? Bukankah seharusnya dia malu atau bahkan tidak mau tau apa yang ibu nya kerjakan, tapi dia seakan melindungi ibunya. Rasa penasaran Farel yang membuatnya tetap duduk menemani anak tersebut, setidaknya dia hanya ingin tahu bagaimana seorang ibu yang di tunggunya.
Sekarang sudah dinihari tapi ibunya belum juga muncul, Farel yang tadi nya khawatir tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan anak itu kalau dirinya sudah terbiasa menunggu ibunya hingga larut malam, dia hanya tidak bisa pulang tanpa ibunya. Anak itu juga bercerita dia tidak bisa memasuki tempat pekerjaan ibu nya itu karena pasti dirinya akan diusir oleh orang-orang disana. Farel pun menceritakan tentang dirinya yang baru datang dari kota lain sehingga tidak tau arah dan tujuannya saat ini ditambah dia telah kehilangan seluruh barang-barangnya, akhirnya Farel membuat kesepakatan kalau dia ingin diajak pulang kerumah anak itu tapi anak itu bilang tergantung persetujuan dari mamahnya.
Setelah lama menunggu akhirnya seorang wanita menghampiri anak tersebut dan Farel langsung memperkenalkan dirinya dan menjelaskan maksud dan tujuannya saat itu. Ibu dari anak itu bernama Mawar, dari perkiraan Farel umur wanita itu hampir sebaya dengannya. Awalannya mawar tidak bersedia membawa Farel kerumah tapi dengan Farel memasang muka yang memprihatinkan akhirnya dia mengiyakan permintaannya. Rumahnya tidak terlalu jauh dari situ Farel hanya perlu berjalan kaki sekitar 15 menit sudah sampai di kediaman mereka tapi alangkah terkejutnya Farel melihat suasana kumuh di lingkungan sekitar disana, karena tak ada pilihan lain malam ini Farel harus bermalam disana.
Menjelang subuh Farel terbangun, dia melihat mawar itu sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke mushola dekat rumahnya setelah Mawar pergi Farel baru bangun dan mengamati seisi rumahnya. Disana Farel melihat ada foto pernikahan Mawar juga ada foto seorang laki-laki, tapi herannya tidak ada foto anaknya Mawar yang di pajang di dinding. Setelah itu Farel hanya duduk di bangku yang ada disana dia masih sangat bingung untuk beradaptasi disana, membuyarkan lamunan Farel anaknya Mawar menyadarkannya dan mengajaknya untuk sholat subuh berjamaah. Sehabisnya sholat subuh Mawar sedang menyiapkan sarapan dan pakaian seragam sekolah anaknya.
Setelah mereka sarapan dan anaknya Mawar sudah berangkat sekolah, Farel memberanikan diri untuk bertanya terhadap Mawar untuk memperjelas keberadaan dirumahnya tidak akan menimbulkan masalah.
“mbak, apa gapapa saya nginap disini sama suaminya?”
“dia juga gakakan pernah tau kok, saya aja gak tau kapan dia pulang”
Mendengar jawaban Mawar, Farel merasa tak enak hati dan dia berjanji kalau akan mengganti biaya penginapannya namun dengan kemurahan hati Mawar yang seakan merasakan kemalangan Farel yang tertimpa musibah kehilangan seluruh barang-barangnya saat tiba di ibukota malah menawarkan untuk menetap disana sebelum dia mendapatkan pekerjaan juga meminjamkan pakaian suaminya.
Sudah 2 hari Farel bersama Mawar dan anaknya dia makin tertarik melihat kehidupan di sekitaran mereka, pantas saja Mawar tidak khawatir kalau Farel berada dirumahnya atau takut ada fitnah yang tak sedap ternyata di lingkungan rumahnya hanyalah masyarakat yang bermata pencaharian rata-rata sebagai wanita malam. Tertarik nya Farel adalah dia tak pernah menyangka bahwa sejak jaman dulu kehidupan gelap seperti ini sudah banyak dirasakan sebagian orang dan pada jaman nya tempat ini dikenal sebagai tempat prostitusi kalangan bawah, tak jarang pula dirinya di goda oleh tetangga sekitaran disana tapi itu hanya membuatnya tertarik untuk mengetahui latar belakang dari tiap orang disini.Untuk mengakhiri rasa penasarannya Farel bertanya terhadap Mawar kenapa perempuan-perempuan disini memilih hidup yang seperti itu. Ternyata tidak banyak dari mereka yang sengaja mau bekerja seperti itu kebanyakan mereka hanya korban tipuan dan ada juga yang untuk bertahan hidup.
Mawar menanyakan kepada Farel apakah dia tidak mau mencari pekerjaan di sini atau dia menawarkan pinjaman untuk pulang ke kota asalnya. Farel yang bingung mau jawab apa, akhirnya dia menceritakan kalau dia bisa sampai disana karena sebuah perjalanan waktu. Mawar yang tidak percaya malah menertawakan dan bilang kalau dirinya stress akibat kehilangan barang-barangnya, dengan upaya pembuktiannya Farel menunjukan ktp dan memperlihatkan uang di jamannya. Dengan rasa yang terkejut akhirnya Mawar mempercayainya.
Hari demi hari waktu berlalu kedekatan Farel dan Mawar pun makin intens dia mencoba membantu mawar untuk merapihkan rumah dan menjaga anaknya selagi malam mawar bekerja, tapi semua hal yang di kerjakannya jarang sekali yang beres. Mawar yang makin simpati dengan Farel berusaha mengajarkan sedikit hal-hal tentang kehidupannya dan Farel mulai tertarik dengan sosok Mawar yang tangguh juga tegar dalam menjalani hidupnya apalagi kesetiaan penantian terhadap suaminya menjadi nilai tambah untuk kesempurnaan yang dimiliki Mawar.
Saat tengah malam Mawar baru pulang bekerja dia melihat anaknya dan Farel sedang tertidur bersama, dia hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati andai saja Farel itu adalah suaminya alangkah bahagianya hidup baginya. Tapi setidaknya dia bersyukur sejak ada Farel anaknya ta perlu lagi menunggunya pulang kerja dan kehidupan anaknya pun mulai membaik karena ada yang memperhatikannya selain Mawar sendiri. Secara tak sadar Farel melihat pandangan Mawar dan langsung terbangun untuk menyambutnya pulang kerumahnya.
“baru pulang ya mbak..”
“iya rel, kamu tidur aja lagi sana”
“saya tadi Cuma ketiduran abis bercanda sama radit”
“oh, makasih ya kamu udah jagain dia selama saya kerja”
“biasa aja lagi mbak, saya juga disini numpang. Mbak apa ga cape kerja kaya gini?”
“abis mau kerja apalagi dong, saya cuma bisanya kaya gini lagipula pendapatannya lumayan. daripada jual diri kaya cewe-cewe lain disini, mending jadi pelayan bar aja yah paling di colek-colek dikit sama laki-laki idung belang”
“gitu ya mbak, emangnya suami mbak ga ngirim uang tiap bulannya?”
“saya aja gatau dia dimana sekarang, entah masih hidup atau udah meninggal. Yang saya bisa lakuin cuman doain yang terbaik buat kehidupannya, dia mungkin masih marah sama saya”
“kenapa mbak? Kalau saya boleh tau, bukan maksud untuk mencampuri kehidupan pribadi mbak”
“dulu saya kerja jadi pembantu rumah tangga karena majikan saya pindah keluar kota saya juga di ajak dan ga pulang selama satu tahun lebih waktu saya pulang saya bawa Radit, disitu kita berantem hebat.saya dituduh selingkuh karena pulang udah bawa anak.”
“loh emangnya dia bukan bapaknya Radit mbak?”
“saya juga bukan ibu nya Radit, tanpa denger penjelasan dari saya dia pergi gitu aja. Padahal saya itu pulang ke sini di telfon sama sahabat saya yang mau melahirkan dia itu ibunya Radit tapi abis ngelahirin Radit dia meninggal dan titipin Radit ke saya. Saya aja ga tau bapaknya yang mana “
Mendengar cerita panjang lebar dari Mawar, Farel tak henti-hentinya memuji dirinya rasanya dia mau menetap di jaman itu dan menjadikan Mawar sebagai tambatan hatinya kelak. Di matanya Mawar adalah wanita paling sempurna yang pernah dia kenal.Seiring berjalannya waktu Farel mulai panik kenapa dia bisa berada di zaman ini selama berhari-hari bahkan sudah hampir 2 minggu disini, tapi sisi baiknya kalaupun dia tak bisa kembali dia bersedia untuk menetap di zaman ini dan hidup berkeluarga bersama Mawar.
Hari ini Farel ingin mengungkapkan perasaan kekagumannya terhadap Mawar dia sadar kalau rasa untuk Mawar adalah bukan suatu hal yang lazim, dia juga mengerti kalau Mawar masih setia menunggu suaminya pulang meski harapannya hanyalah sehelai rambut dia dengan keteguhan hatinya tetap menjaga kehormatannya. Dengan segala kehalusan Mawar menolak perasaan Farel itu.
“kalau aja kita terlahir di zaman yang sama, saya adalah satu-satunya laki-laki yang harus ngedapetin kamu dan bahagiaan kamu. Cinta tak kenal ruang dan waktu sekarang saya mencintai kamu lebih dari saya mencintai diri saya sendiri
kalau aja saat ini saya adalah orang jahat yang bisa ngerusak penantian akan kesetiaan kamu saya bakal berubah jadi orang baik dalam sesaat ketika kamu ada di pelukan saya”

Mendengar kata-kata yang diucapkan Farel, Mawar meneteskan air mata berulang-ulang. Rasanya dia merasakan ketulusan hati Farel untuk dirinya. Selama ini dia juga merasa nyaman ketika bersamanya, namun perbedaan antara mereka sangat tidak mungkin untuk di persatukan. Apalagi mereka dari zaman yang berbeda.
Tak lama setelah pengungkapan hatinya itu Farel hanya terduduk di depan teras dia melihat cahaya besar dari balik pohon, rasa penasaran yang menuntun untuk menghampirinya. Cahaya itu seakan menarik untuk masuk ke dalamnya. Dari kejauhan dia menatap ke arah rumah Mawar dan datang seorang pria yang sedang memeluk nya dengan penuh haru, Farel sadar kalau ini waktunya untuk kembali ke masa nya. Mawar yang sedang berpelukan dengan laki-laki itu melambaikan tangan dan meneteskan air matanya.
Dengan sekejap Farel pun kembali dan melihat Reza, disitu Reza menanyakan apa yang terjadi terhadapnya karena raut wajah murung yang di perlihatkan Farel setiba di hadapannya. Dia menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya lewat mesin waktu itu dan meminta Reza untuk membawanya kembali ke masa itu tapi Reza tidak bisa mengiyakan permintaan sahabatnya itu.
Setelah beberapa hari Farel kembali ke kehidupan normalnya itu, dia mencoba mencari keberadaan Mawar beserta keluarga lewat beberapa media dan data yang dimilikinya dengan kegigihan kerja keras nya dia menemukan sosok Radit dewasa yang sudah memiliki anak cucu. Kalau di hitung-hitung usia nya pun jauh lebih tua dengan Farel sekarang tapi yang dia ingin tau adalah keberadaan ibunya dan bagaimana dengan laki-laki yang pernah dia lihat memeluk ibunya.
Tak peduli seberapa jauh usaha Farel untuk mendekati keluarga Radit, baginya Farel adalah orang asing aneh yang menceritakan hal yang tak masuk akal bahkan Radit pun tak mengingat bagaimana Farel bisa memasuki kehidupannya di masa lalu. Saat Radit mulai menerima cerita gila dari Farel dirumahnya itu dia melihat seorang perempuan cantik berparas wajah persis seperti Mawar tapi lebih muda beberapa tahun dari Mawar yang dikenalnya dulu dan ternyata wanita itu adalah cucu dari Radit yang sedang berkunjung kerumahnya saat itu.

.TAMAT.
HM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar